SLIDE1

Showing posts with label KAJIAN ISLAM. Show all posts
Showing posts with label KAJIAN ISLAM. Show all posts

BERFIKIRLAH POSITIF DAN RASAKAN KEAJAIBANNYA

- No comments
Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak.

”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya” (W.W. Ziege)

PERNAHKAH Anda mendengar atau membaca kisah sukses Abdurrahman bin ’Auf. Sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga ini adalah cermin yang mesti kita tiru dalam hidup ini. Kesuksesannya berbisnis tak membuatnya sombong dan berbangga diri, tapi sebaliknya ia tetap menunjukkan kebersahajaan dan keikhlasannya untuk berbagi bahkan berbagi sesuatu yang paling ia cintai.

Salah satu yang menarik diri pribadi beliau adalah keyakinannya yang baik akan potensi dirinya. Kalimat yang pernah terluncur dari lisan beliau yang mashyur adalah, “Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak……!” Abdurrahman bin Auf memberikan contoh konsep diri yang baik kepada kita. Konsep diri berupa keyakinan akan potensi yang luar biasa yang ada pada setiap diri manusia.

Kalimat di atas adalah bukan isyarat kesombongan dari seorang Abdurrahman bin ’Auf tapi sebuah pikiran positif terhadap potensi yang diberikan Allah kepada setiap hamba-Nya.

Karena sesungguhnya karunia Allah begitu luas di muka bumi maupun langit ini. Persoalannya tinggal bagaimana kita mampu menggali potensi lalu mengembangkan potensi dan karunia Allah tersebut. Sehingga kita mampu mendapatkan manfaat dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Abdurrahman bin ’Auf telah membuktikan bahwa untuk mencapai kesuksesan modal awal yang harus dimiliki setiap insan adalah berpikir positif terhadap dirinya, yakni memberikan kepercayaan, keyakinan akan potensi besar yang ada pada dirinya. Setelah meyakini diri sendiri, Abdurrahman bin ’Auf mencontohkan kepada kita bagaimana bagaimana ia membangun keyakinan akan kekuasaan Allah.

Yakinlah, bahwa Allah tak pernah tidur. Allah akan memberikan apapun yang diminta hamba-Nya, selagi hambanya melakukan ikhtiar yang maksimal untuk membuktikan pikiran positifnya tersebut.

Abdurrahman bin Auf mengatakan, ”Seandainya aku mengangkat batu niscaya ketemukan di bawahnya emas dan perak ….!”

Tahukah Anda apa isyarat apa yang mau digambarkan Abdurrahman bin ’Auf tersebut? Ia sedang mengisyaratkan jika hamba-hamba Allah mau bekerja, berjuang, berikhtiar dan melakukan kreatifitas maka pasti akan menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat kepada dirinya.

Konsep di atas bukan isapan jempol, Kita tahu bahwa Abdurrahman bin ’Auf adalah sahabat terkaya di Mekkah. Pasti kita juga masih ingat kisah hijrah penduduk Mekkah ke Madinah.

Hijrah yang dilakukan nabi dan para sahabat muhajirin mengharuskan Abdurrahman bin ’Auf meninggalkan harta kekayaannya. Seperti juga sahabat lainnya Abdurrahman bin ’Auf hanya membawa harta secukupnya untuk di bawa ke Madinah. Ia adalah sosok manusia yang tidak menggenggam hartanya di hati, ia bisa mengikhlaskan apa yang ia tinggalkan tersebut.

Maka, ketika di sampai di Madinah sahabat anshor menawarkan kepadanya harta kekayaan karena mereka tahu bahwa Abdurahman adalah orang kaya yang telah meninggalkan hartanya untuk hijrah ke Madina mengikuti perintah nabi. Tapi, Abdurrahman bin ’Auf menolak tawaran harta sahabat Anshor tersebut. Ia lebih memilih untuk diberitahu di mana pasar berada. Ia ingin memulai bisnis baru di Madinah. Apakah yang diperdagangkan Abdurrahman bin ’Auf? Ia memulai bisnis tali pengikat kuda. Dan inilah awal bisnis Abdurrahman bin ’Auf yang selanjutnya mengembalikan hartanya yang telah ia tinggalkan. Abdurrahman bin ’Auf sukses berbisnis di Madinah.

Apa pelajaran yang perlu kita ambil dari cerita di atas adalah bahwa modal kesuksesan adalah tidak semata faktor modal materi dan pendidikan yang tinggi. Sukses selalu diawali oleh pikiran positif seseorang dalam memandang dirinya, meyakini kekuasaan Allah dan cara pandang terhadap kehidupan yang akan ia jalani. Ketika kita berpikir positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi dari pada bereaksi karena kita akan lebih fokus mencapai tujuan kita dari pada memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita.

Robert J. Hasting pernah berkata, “Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang”.

Sekarang saatnya diri Anda memutuskan apakah Anda ingin menjadi pribadi sukses atau menjadi pecundang yang terus berpikir kalah dan gagal. Pastikan diri kita adalah pemenang!*

Nur Jamaludin, kandidat Master of Economics di International Islamic University Malaysia (IIUM), Anggota ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur Malaysia

Berapa Kali Baca al-Quran Dibanding Buka Gadget?

- No comments
Bertanyalah kepada bocah-bocah SD yang sekarang ini sudah menenteng HP kemana-mana, untuk apa alat itu mereka pergunakan? Anda pasti sudah bisa menduga jawabannya

IMAM Ibnu Katsir berkata, “Allah menceritakan perihal Rasul dan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang diabaikan.” Hal itu dikarenakan kaum musyrikin tidak mau memperhatikan al-Qur’an, tidak juga mendengarkannya, sebagaimana firman Allah:


وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (QS. Fushshilat: 26).

Bila al-Qur’an dibacakan, mereka membikin banyak keributan dan membicarakan hal-hal lain, sehingga tidak bisa mendengar bacaannya. Ini termasuk mengabaikan al-Qur’an. Tidak mau mengamalkan dan menghafalnya, juga termasuk mengabaikannya. Tidak mau mengimani dan membenarkannya, juga termasuk mengabaikannya. Tidak mau merenungkan dan memahaminya, juga termasuk mengabaikannya. Tidak mau mengamalkannya, mematuhi perintah-perintahnya, dan menjauhi larangan-larangannya, juga termasuk mengabaikannya.
Kita justru sering condong kepada selain al-Qur’an, seperti syair, perkataan orang, nyanyian, permainan, ungkapan, atau tata-cara yang diambil dari selain al-Qur’an, juga termasuk mengabaikannya.

Kami memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Maha Pemberi, dan Berkuasa atas segala sesuatu, agar menyelamatkan kita dari hal-hal yang mengundang murka-Nya, memperjalankan kita di dalam hal-hal yang mendatangkan ridha-Nya, seperti menghafalkan dan memahami Kitab-Nya, serta menegakkan konsekuensi-konsekuensinya sepanjang siang maupun malam, menurut cara yang Dia cintai dan ridhai. Sungguh Dia Maha Pemurah lagi Maha Pemberi,” demikian kata Ibnu Katsir.

Menurut al-Hafizh Ibnul Jauzi, banyak ulama lain yang berpandangan bahwa kalimat tersebut diucapkan oleh Rasulullah pada Hari Kiamat, ketika mendapati kenyataan sebagian umatnya yang tersesat, padahal Allah telah menurunkan bimbingan yang jelas, mudah, dan lengkap. Seolah-olah Allah bertanya kepada beliau, “Mengapa mereka masih bisa tersesat?” Jawaban beliau pasti, “Karena mereka tidak memperdulikan petunjuk-Mu, ya Allah.”

Oleh karenanya, Ibnu Mas’ud berpesan: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah sajian hidangan dari Allah (ma’dubatullah), maka ambillah darinya semaksimal yang kalian mampu. Sungguh, aku tidak melihat sesuatu yang lebih remeh dibanding sebuah rumah yang di dalamnya tidak ada sedikit pun bagian dari Kitabullah. Sungguh hati yang di dalamnya tidak ada sedikit pun bagian dari Kitabullah pastilah roboh, seperti robohnya rumah yang tidak berpenghuni.” (Riwayat ad-Darimi. Para perawinya terpercaya).

Lebih sering mana dengan smartphone

Mari mengevaluasi diri sendiri. Berapa banyak bagian dari Kitabullah yang ada di rumah kita? Tentu saja, bukan hanya Mushhaf dan terjemahannya, namun nilai-nilai, ajaran, dan bacaannya. Ketika al-Qur’an menyuruh menegakkan shalat, bagaimana di rumah kita? Saat al-Qur’an menyeru kaum wanita agar menutup aurat, seperti apa perilaku para wanita dari keluarga kita? Tatkala al-Qur’an menyuruh menjauhi perzinaan, bagaimana sikap kita? Di antara berbagai suara yang biasa terdengar dari rumah kita, apakah di antaranya terdapat bacaan aAl-Qur’an? Apakah ada bagian dari al-Qur’an yang bersemayam di hati dan pikiran kita? Bandingkan, lebih ringan mana: melantunkan nyanyian atau ayat-ayat Allah? Jika jawaban dari seluruh renungan ini negatif, maka pengaduan Rasulullah diatas sangatlah pantas, dan anjuran Ibnu Mas’ud pun amat tepat.

Renungan seperti ini sangat relevan sekarang. Kita hidup di zaman yang memberi kesempatan seluas-luasnya untuk berbagai hal, termasuk mengkaji aneka ide, gagasan, dan agama. Dengan perangkat-perangkat berteknologi mutakhir yang membanjiri pasar, sekaligus didukung kemampuan software dan operating system yang canggih, ditambah harga yang cukup terjangkau, sesungguhnya pilihan telah berada di ujung jari kita.

Dulu, seseorang harus mendatangi perpustakaan besar untuk mengkaji tafsir-tafsir otoritatif, namun kini justru kitab-kitab itu yang mendatanginya dalam bentuk digital contents yang praktis, ringan, dan seringkali gratis.

Demikian pula kitab-kitab hadits, akidah, siroh, sejarah, adab, akhlak, dsb. Pilihan bahasanya pun sangat luas, mulai dari bahasa internasional seperti Arab dan Inggris, atau berbagai bahasa yang kebanyakan hanya kita kenal namanya seperti Swahili, Malayalam, Amharic, dst.
Anda pasti tahu, bahwa sebuah perangkat elektronik yang amat tipis dan bobotnya tidak lebih dari satu kilogram, kini sanggup memuat ribuan kitab yang jika dicetak harus diangkut oleh beberapa truk trailer!

Banyak pula sofware yang bisa dengan mudah kita membaca al-Quran, mendalami isinya atau juga hadits-hadits.

Sayangnya, kemampuan gadget semacam itu lebih banyak diarahkan kepada yang negatif dan sia-sia. Mayoritas laptop, BB, i-Pad, smartphone, dsb. justru dipadati games dan sarana hiburan.

Bertanyalah kepada bocah-bocah SD yang sekarang ini sudah menenteng HP kemana-mana, untuk apa alat itu mereka pergunakan? Anda pasti sudah bisa menduga jawabannya. Yang jelas, bukan untuk mengakses ayat al-Qur’an, hadits Nabi, referensi standar, atau kisah teladan.

Sesungguhnya, ketika kitab-kitab standar bisa mendatangi kita dengan hanya memencet tombol, pada kenyataannya buku dan artikel “sampah” atau materi pornografi, juga sama mudahnya untuk mendatangi kita melalui alat-alat itu. Mengapa kita tidak memilih yang berguna, agar alat-alat yang kita beli dengan harga mahal itu tidak sulit dipertanggungjawabkan di akhirat?

Sebagai seorang Muslim, ada baiknya kita mewaspadai watak setiap peradaban. Boleh menggunakan alat-alat sebagai bagian produk peradaban, namun seharusnya bersikap hati-hati. Seperti tubuh, kita akan mati jika menolak mengonsumsi apa saja, tetapi kita juga akan mati jika mau memakan apa saja. Ada bahan yang baik bagi tubuh, ada juga yang buruk.

Perangkat-perangkat itu, yakni contents di dalamnya, semestinya kita sikapi seperti makanan bagi jiwa dan pikiran. Jangan ditolak semuanya, tetapi jangan diterima semuanya. Kita harus memakainya secara bijak, termasuk mengajari anak-anak kita bagaimana menggunakannya.
Inti dakwah Rasulullah adalah menyampaikan Al-Qur’an kepada segenap umat manusia; dan beliau tidak pernah bergeser darinya. Maka, sikap manusia pun terbelah secara nyata. Dan, betapa sering beliau harus menghadapi kenyataan-kenyataan getir, sampai-sampai beliau mengadu kepada Allah tentang perilaku mereka:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً

Berkatalah Rasul: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang diabaikan.” (QS. al-Furqan: 30).

Apakah maksud pengaduan beliau ini?

Kita patut khawatir, jangan-jangan zaman inilah penyumbang terbesar pengaduan Rasulullah kepada Tuhannya di akhirat nanti, padahal kita berada di dalamnya. Yakni, ketika lebih banyak orang yang tidak lagi perduli kepada Kitabullah, dan justru khidmat menyimak wejangan penyanyi, khusyu’ mengejer level game-game, manggut-manggut pada bualan peramal, dan penuh takzim pada saran dari para budak materi dan penyembah dunia. Jika kelak Rasulullah mengucapkan kalimat itu di hadapan Allah, apakah kita termasuk di dalamnya? Na’udzu billah.

Utamakan Ridha Allah saja, Kebahagiaan Pasti Kita Rengkuh !

- No comments

Kebahagiaan itu akan benar-benar kita rengkuh jika kita mengutamakan akhirat dan ridha Allah

APA yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama, kebahagiaan. Semua aktivitas yang dilakukan oleh umat manusia, dari Nabi Adam hingga manusia akhir zaman kelak, semuanya hanya ingin mendapat kebahagiaan.
Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin sangat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini, di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.
Sebagai contoh, manusia hari ini lebih suka dengan hal-hal yang bersifat instan. Padahal, alam ini memiliki hukum proses di dalamnya. Seperti itu pula dalam kehidupan manusia. Tidak ada keberhasilan melainkan mensaratkan usaha, ikhtiar dan do’a bahkan pengorbanan di dalamnya. Sayang, manusia selalu ingin serba cepat.
Mengapa kasus penipuan sangat marak di era modern ini? Sampai urusan-urusan ibadah saja masih sempat-sempatnya disusui penipuan. Semua tidak lain karena telah terjadi kerusakan cara berpikir. Umumnya orang ingin kaya secepat kilat. Ibaratnya, kalau bisa tanpa usaha (bahkan kalau perlu tanpa pengorbanan) kenapa tidak dilakukan?
Perilaku hidup seperti itu pula yang mendorong praktik korupsi dan kolusi di negeri ini sulit dibereskan. Akhirnya, prinsip persaudaraan, saling mengasihi, saling menolong (ta’awun), sudah sulit lagi kita temukan. Semua diukur dengan dunia (uang).
JIka ada orang mengalami musibah kecelakaan, kemudian diantar ke tempat berobat, pertanyaan pertama dari pihak pengelola tempat berobat adalah; Apakah yang bersangkutan memiliki jaminan uang atau tidak? Jarang sekali yang langsung sigap memberi pertolongan, kecuali secara kasat mata terlihat sebagai manusia berduit. Jika tidak,maka pelayanan pun akan diberikan asal-asalan.
Beberapa kasus kita saksikan, orang berebut menjarah truk atau mobil yang sedang ditimpa musibah kecelakaan. Bukan menolong penumpangnya agar selamat dari musibah, justru masyarakat ‘menari-nari’ di atas penderitaan yang terkena musibah.
Di sisi lain, masyarakat saat ii mulai banyak terseret pada pola hidup mubadzir dan sia-sia. Betapa banyak, masyarakat disibukkan dengan jadwal orang lain, ibaratnya, hidupnya digerakkan dan didekte oleh industri?
Anak remaja dan para pamuda sibuk dengan smart phone-nya, hingga lupa jadwal kehidupan nya yang jauh lebih penting. Mereka asyik berkomunikasi via on-line, seolah lupa hal-hal penting lain. Ibu putri mereka sibuk jadwal sinotron, sementara ayahnya sibuk mengikuti jadwal pertandingan bola, hingga lupa shalat dan duduk bersimpuh di hadalan Allah Subhanahu wata’ala.
Pertanyaannya, mengapa manusia modern sekarang berpola pikir dan berpola hidup seperti itu? Tiada lain karena orientasi hidupnya yang sangat dekat (dunia dan segala kesenangan di dalamnya), sehingga tidak mampu melihat perkara-perkara penting yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan asasinya. Inilah akar dari materialisme, cinta dunia lupa akhirat.
Utamakan Akhirat
Jika cara-cara hidup mayoritas manusia modern sebagaimana terpapar di atas ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan, lantas bagaiamana agar kebahagiaan itu bisa terwujud?
Tiada lain kecuali dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw, yakni dengan mengutamakan akhirat dengan tidak melupakan dunia.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS: Al-Qashashash [28] : 77).
Jadi, kebahagiaan itu akan benar-benar kita rengkuh apabila kita mengutamakan akhirat (menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya) sembari terus berusaha memperbaiki kondisi ekonomi keluarga dengan cara yang halal, tekun dan penuh kesungguhan.
Pada saat yang sama, kita berusaha berbuat baik terhadap sesama dengan penuh kesungguhan hati, sehingga tercipta kehidupan yang rukun, damai dan indah. Petuah dari tanah Sunda mengatakan, dalam hidup ini kita harus saling asah, asih dan asuh. Jadi, tidak boleh kita saling benci, saling bermusuhan, dan saling menjelekkan.
Kesengsaraan
Siapa yang lebih suka membenci saudara seimannya daripada mencintai, menyayangi dan mengasihinya, maka kecelakaan besar akan menjumpainya. Apalagi, jika semua itu dilakukan semata-mata hanya karena urusan dunia, sungguh kebinasaan akan menghampirinya. Sebagaimana telah dialami oleh Fir’aun, Qarun, Haman, Abu Jahal, Abu Lahab, termasuk Tsa’labah.
Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina.
Barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan menceraiberaikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi).
Berkenaan dengan hadits tersebut, Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani memberi uraian tentang orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya sebagai orang yang akan mengalami kerugian dan kesengsaraan.
Syeikh Al-Albani menjelaskan bahwa arti ‘menceraiberaikan urusannya’ yaitu urusan-urusannya yang sudah tersusun rapi justru menjadi berantakan.
Dengan demikian, kita harus berusaha membebaskan diri dari ancaman kesengsaraan tersebut dengan mencintai akhirat tanpa lupa dunia. Atau dengan bahasa lain; kuasai dunia jangan cintai, melainkan akhirat. Niscaya Allah akan memberikan kebahagiaan di dunia dan surga di akhirat.
Terhadap orang yang seperti itu, Allah memerintahkan kita untuk menjauhinya, karena orang yang hanya cinta dunia adalah orang yang pengetahuannya tidak menambah apapun, melainkan terus menambah kesesatan dan kesengsaraan (QS. Al-Najm [53] : 29 – 30).
Hakikat Dunia
Untuk mengutamakan akhirat atas dunia maka kita perlu merenungkan sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah ra.
“Dunia ini adalah tempat tinggal orang yang tidak mempunyai rumah, harta bagi orang yang tidak mempunyai harta benda. Dan karenanya (dunia) orang-orang yang tidak berakal berlomba-lomba untuk mengumpulkannya.” (HR. Ahmad)
Disamping itu Rasulullah juga memberikan anjuran kita untuk berdoa seperti ini; “Allahumma latajaliddunya akbara hammina, wala mablaga ilmina” (Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai puncak cita-cita dan tujuan akhir pengetahuan kami).
Jadi, siapa yang hidup untuk harta, maka dia akan menjadi pewaris Qarun. Siapa yang hidup untuk tahta maka ia akan menjadi pewaris Fir’aun. Dan, siapa yang cinta hawa nafsu, dia akan menjadi bagian dari tentara setan.
Dan, tidaklah semua pewaris dunia itu kecuali berakhir di dalam neraka yang menyala-nyala. Na’udzubillahi min dzalik. Lantas, masihkah kita akan menyandarkan kebahagiaan hidup kita pada dunia dan mengorbankan akhirat yang sangat kita butuhkan? Padahal, ridha Allah yang merupakan sumber kebahagiaan terindah, hanya untuk hamba-Nya yang mengutamakan akhirat di atas dunia.

Persiapkan Sebelum Melewati Shirath Hari Esok!

- No comments
Menurut Ibn Katsir, hari esok itu hanya tepat jika kita dipersiapkan dengan banyak beramal sholeh
UMUMNYA orang memahami masa depan hanya sebatas usia tua. Tidak heran jika banyak orang mati-matian mengumpulkan uang sejak muda dengan harapan hidup berlimpah harta di masa tuanya. Bahkan, kalau perlu kekuasaan tetap berada di tangan keturunannya.

Sekiranya, cara mendapatkannya halal, tentu tidak mengapa. Persoalannya adalah ketika pengumpulan harta itu dilakukan dengan cara-cara curang dan haram. Tentu ini suatu kecelakaan besar. Jangankan di akhirat, di masa tua di dunia pun pasti akan sengsara. Lihatlah nasib Fir’aun, Haman, Qarun, Namrudz dan yang lainnya.

Seperti jamak diketahui, sekarang ini demi sebuah posisi atau jabatan, sebagian orang sangat mudah berjanji dan sering tidak menepatinya tanpa sedikitpun ada penyesalan. Lain di bibir lain di hati.

Di depan orang bertindak seperti orang baik, di belakang sering mengabaikan perintah agama. Gemar sekali bermaksiat, menipu, menggunjing, dan menebar berita yang tidak jelas kebenarannya. Termasuk tidak segan-segan memfitnah saudara sendiri jika dianggap menghambat perjalanan karir atau mengancam posisinya. Sementara itu, tradisi yang dibangun setiap hari dan malamnya hanyalah ke kafe, hotel, dugem, dan pesta-pesta tiada henti. “Semua itu demi masa depan,” dalihnya.

Padahal, mengacu pada sumber hadits Nabi, di akhirat nanti, setiap manusia harus melintasi yang namanya shirath (jembatan) yang menjadi penentu nasib setiap jiwa bisa masuk surga atau terjun ke neraka. Oleh karena itu, Ibn Athaillah sangat heran kepada tingkah laku kebanyakan manusia yang heboh mengejar dunia dan tertawa-tawa seolah telah peroleh kebahagiaan akhirat. Di depan manusia bertingkah laku baik, di belakang sering melupakan aturan Allah.

Melintasi Shirath

Dalam kitabnya Tajul Arus, Ibn Athaillah berkata, “Kau tertawa terbahak-bahak seakan-akan telah melewati jembatan (shirath) dan menyeberangi neraka. Jika kau tidak menjaga sikap wara’ kepada Allah yang bisa mencegah dari maksiat ketika sendiri, taburkan tanah ke atas kepala sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Barangsiapa tidak memiliki sikap wara’ yang bisa mencegahnya dari maksiat ketika sendiri, Allah sama sekali tidak akan memedulikan amalnya.” (HR. Al-Daylami).

Shirath sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi adalah jembatan di atas Jahannam. Dalam shahih Bukhari Muslim disebutkan, “Jembatan Jahannam dibentangkan dan aku yang pertama kali melewatinya. Doa para rasul ketika itu adalah: ‘Ya Allah, selamatkan!’

Pada jembatan itu terdapat jangkar-jangkar seperti duri sa’dan. Tahukah kalian, apakah duri sa’dan itu? Para sahabat menjawab, ya.

Beliau melanjutkan, “Ia bagaikan duri sa’dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Ia akan menarik manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka. ada yang selamat ada pula yang merangkak kemudian selamat.” (HR. Bukhari).

Jadi, satu hal yang mestinya menjadi perhatian setiap orang beriman adalah bagaimana kira-kira nasibnya di akhirat nanti, terutama ketika harus melewati shirath. Karena shirath ini adalah media penentu dari Allah seseorang masuk surga atau terjungkal ke dalam neraka.
Sungguh, kita tidak pernah bisa mengetahui, apalagi memastikan, apakah amal yang kita lakukan termasuk amal yang diterima, jiwa kita adalah jiwa yang takwa, atau justru masuk kelompok manusia yang celaka.

Oleh karena itu, kita patut bertanya dalam diri, sebagaimana Hasan bin Ali radhiyallahu anhu berkata, “Aku takut ketika sebagian dosaku terlihat kemudian Allah berkata, ‘Dosamu tidak diampuni.”

Masa depan manusia yang harus menyeberangi shirath itulah yang kemudian mendorong Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis,” (HR. Bukhari).

Artinya, kita harus benar-benar mengimani hari akhir, dengan bersegera melakukan segala amal sholeh dan menjauhi perbuatan yang merusak. Berlomba-lomba menyiapkan bekal takwa menuju Allah agar kelak mendapat rahmat dari-Nya dan bisa menyeberang di atas shirath dengan selamat hingga ke surga.

Firman-Nya tentang Hari Esok

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr [59]: 20).

Ibn Katsir dalam tafsir ayat tersebut menyebutkan riwayat yang disampaikan oleh Imam Ahmad dari Al-Mundzir bin Jabir, yang secara inti memaparkan pengalaman Rasulullah melihat suku Mudhar yang sangat miskin, hingga tak beralas kaki dan tidak berpakaian.

Melihat hal tersebut, kemudian Rasulullah berkhutbah, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu (sampai akhir ayat). Lau beliau membaca ayat tersebut hingga tuntas, kemudian menambahkan, ‘…meskipun hanya dengan satu belah kurma.”

Mendengar khutbah itu, seorang sahabat Anshar datang membawa satu kantong, hampir saja telapak tangannya tidak mampu mengangkatnya, bahkan memang tidak mampu. Lalu orang-orang pun mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan dari makanan dan pakaian, sehingga aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam berseri-seri bagaikan disepuh emas.

Maka, menurut Ibn Katsir hari esok itu atau masa depan itu hanya tepat jika kita persiapkan dengan banyak beramal sholeh, bersegera membantu saudara yang lain yang sangat berhajat terhadap kebutuhan hidup, walau hanya dengan separuh biji kurma. Kemudian menjauhi seluruh bentuk larangan-Nya.

Dengan demikian perbanyaklah intropeksi diri (muhasabah). Lihatlah apa yang telah kita tabung untuk akhirat kita sendiri utamanya ketika bertemu dengan Rabb kita semua. Jangan sampai kita lupakan hal yang sebenarnya tidak lama lagi akan kita jumpai dalam perjalanan panjang kehidupan akhirat.

Mulai sekarang, berhentilah bergantung pada harta, jabatan, dan kekuasaan. Semua itu tidak akan berarti apa-apa tanpa iman, takwa dan amal sholeh. Justru siapapun kita, pada dasarnya sangat berpotensi mendapatkan masa depan yang baik bahkan sangat-sangat baik, asalkan, senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas takwa kepada-Nya dan banyak melakukan amal sholeh untuk kemaslahatan bersama.* / Imam Nawawi

SUBHANALLAH,Bisikan Adzan Bisa Merangsang Syaraf Kecerdasan Bayi. SEBARKANLAH !!

- No comments

Ketika bayi baru lahir di kalangan keluarga muslim biasanya diperdengarkan adzan orang sang ayah.Itulah suara yang pertama kali diperdengarkan kepada bayi.

Lalu apakah sebenarnya sang bayi bisa mendengar adzan saat baru lahir? Dan apa pula reaksinya.
Ternyata yang terjadi adalah seperti ini:

“Ketika adzan itu dibisikan di telinga kanan sang bayi, maka yang terjadi adalah suara itu mampu merangsang syaraf kecerdasan bayi untuk berfikir,” ujar ulama cendekiawan muslim Banjarmasin DR Karyono Ibnu Ahmad kepada Bpost Online, Senin.

Sedangkan bila dibisikan di telinga kiri, menurut dosen sosilogi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin itu, maka suara itu akan menimbulkan sentuhan rangsangan kecerdasan emosi atau rasa si bayi.

Walau secara fisik sebenarnya bayi baru lahir belum bisa mendengar.
“Tetapi bisikan adzan itu harus disertai dengan doa kepada Allah,” ujar Karyono lagi.

SUBHANALLAH ISTRI YANG MEMILIKI 10 SIFAT INI, INSYA ALLAH REZEKI SUAMI MENGALIR DERAS DAN LANCAR

- No comments


10 Sifat Wanita yang Mendatangkan Rezeki Bagi Suami . Banyak suami yang mungkin tidak tahu bahwa rezekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak bisa dilihat secara kasat mata, namun bisa dijelaskan secara spiritual bahwa 10 sifat istri ini ‘membantu’ mendatangkan rezeki bagi suaminya.

1. Istri yang pandai bersyukur
Istri yang bersyukur atas segala karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk rezeki. Punya suami, bersyukur. Menjadi ibu, bersyukur. Anak-anak bisa mengaji, bersyukur. Suami memberikan nafkah, bersyukur. Suami memberikan hadiah, bersyukur. Suami mencintai setulus hati, bersyukur. Suami memberikan kenikmatan sebagai suami istri, bersyukur.
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya adzabku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

2. Istri yang tawakal kepada Allah
Di saat seseorang bertawakkal kepada Allah, Allah akan mencukupi rezekinya.
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 3).
Jika seorang istri bertawakkal kepada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rezekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selalu harus langsung diberikan kepada wanita tersebut. Bisa jadi Allah akan memberikan rezeki yang banyak kepada suaminya, lalu suami tersebut memberikan nafkah yang cukup kepada dirinya.

3. Istri yang baik agamanya
Rasulullah menjelaskan bahwa wanita dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya.
“Pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Beruntung itu beruntung di dunia dan di akhirat. Beruntung di dunia, salah satu aspeknya adalah dimudahkan mendapatkan rezeki yang halal.
Coba kita perhatikan, insya Allah tidak ada satu pun keluarga yang semua anggotanya taat kepada Allah kemudian mereka mati kelaparan atau nasibnya mengenaskan. Lalu bagaimana dengan seorang suami yang banyak bermaksiat kepada Allah tetapi rezekinya lancar? Bisa jadi Allah hendak memberikan rezeki kepada istri dan anak-anaknya melalui dirinya. Jadi berkat taqwa istrinya dan bayi atau anak kecilnya yang belum berdosa, Allah kemudian mempermudah rezekinya. Suami semacam itu sebenarnya berhutang pada istrinya.

4. Istri yang banyak beristighfar
Di antara keutamaan istighfar adalah mendatangkan rezeki. Hal itu bisa dilihat dalam Surat Nuh ayat 10 hingga 12. Bahwa dengan memperbanyak istighfar, Allah akan mengirimkan hujan dan memperbanyak harta.
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu”(QS. Nuh : 10-12).

5. Istri yang gemar silaturahim
Istri yang gemar menyambung silaturahim, baik kepada orang tuanya, mertuanya, sanak familinya, dan saudari-saudari seaqidah, pada hakikatnya ia sedang membantu suaminya memperlancar rezeki. Sebab keutamaan silaturahim adalah dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.
“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

6. Istri yang suka bersedekah
Istri yang suka bersedekah, dia juga pada hakikatnya sedang melipatgandakan rezeki suaminya. Sebab salah satu keutamaan sedekah sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah, akan dilipatgandakan Allah hingga 700 kali lipat. Bahkan hingga kelipatan lain sesuai kehendak Allah.
Jika istri diberi nafkah oleh suaminya, lalu sebagiannya ia gunakan untuk sedekah, mungkin tidak langsung dibalas melaluinya. Namun bisa jadi dibalas melalui suaminya. Jadilah pekerjaan suaminya lancar, rezekinya berlimpah.
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261).

7. Istri yang bertaqwa
Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jaminan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ia akan mendapatkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Talaq ayat 2 dan 3.
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. At Thalaq: 2-3).

8. Istri yang selalu mendoakan suaminya
Jika seseorang ingin mendapatkan sesuatu, ia perlu mengetahui siapakah yang memilikinya. Ia tidak bisa mendapatkan sesuatu tersebut melainkan dari pemiliknya.
Begitulah rezeki. Rezeki sebenarnya adalah pemberian dari Allah Azza wa Jalla. Dialah yang Maha Pemberi rezeki. Maka jangan hanya mengandalkan usaha manusiawi namun perbanyaklah berdoa memohon kepadaNya. Doakan suami agar senantiasa mendapatkan limpahan rezeki dari Allah, dan yakinlah jika istri berdoa kepada Allah untuk suaminya pasti Allah akan mengabulkannya.
“DanTuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan” (QS. Ghafir: 60).

9. Istri yang gemar shalat dhuha
Shalat dhuha merupakan shalat sunnah yang luar biasa keutamaannya. Shalat dhuha dua raka’at setara dengan 360 sedekah untuk menggantikan hutang sedekah tiap persendian. Shalat dhuha empat rakaat, Allah akan menjamin rezekinya sepanjang hari.
“Di dalam tubuh manusia terdapat 360 sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.”(HR. Ahmad).

10. Istri yang taat dan melayani suaminya
Salah satu kewajiban istri kepada suami adalah mentaatinya. Sepanjang perintah suami tidak dalam rangka mendurhakai Allah dan RasulNya, istri wajib mentaatinya.
Apa hubungannya dengan rezeki? Ketika seorang istri taat kepada suaminya, maka hati suaminya pun tenang dan damai. Ketika hatinya damai, ia bisa berpikir lebih jernih dan kreatifitasnya muncul. Semangat kerjanya pun menggebu. Ibadah juga lebih tenang, rizki mengalir lancar. (reportaseterkini)

17 KUTAMAAN MEMBACA AL QURAN SETIAP HARI

- No comments

Pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari Keutamaan membaca Al Quran. Pertanyaan muncul, Sudahkah anda membaca al quran hari ini? Berapa ayatkah yang anda baca setiap hari? Ataukah sama sekali anda lupa atau dengan sengaja mengabaikannya?

Kadang tanpa kita sadari, dengan bertambah banyaknya aktifitas keseharian kita, seolah kita lupa dengan Al Quran yang kita taruh di atas meja kita, lemari atau munngkin dalam saku kita.
Seakan hanya sekedar menjadi hiasan maupun pajangan diantara buku-buku dan majalah lainnya astaghfirullah..  Sungguh rugi bagi mereka yang jauh dari lantunan dan bacaan al quran.

Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya barang siapa yang dalam dirinya tiada bacaan al quran maka ia seperti halnya rumah yang roboh

Keutamaan Membaca Al Quran dalam islam adalah;

1. Sebaik-baik manusia yang mempelajari dan mengajarkan alquran
Sabda Nabi Muhammad saw: “Sebaik-baik kalian adalah siapa yang memperlajari al-Qur’an dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari)

2. Pahala membaca Al Quran
Sabda Nabi Muhammad saw: “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi).

3. Keutaman membaca Al Quran, Menghafalnya dan pandai membacanya
Sabda Nabi Muhammad saw: “Perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an sedang ia hafal dengannya bersama para malaikat yang suci dan mulia, sedang perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an sedang ia senantiasa melakukannya meskipun hal itu sulit baginya maka baginya dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih).

4. Pahala bagi orang yang anaknya mempelajari Al Quran
“Siapa saja membaca al-Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya dan sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan pada kedua orang tuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia. Keduanya pun bertanya, ‘bagaimana dipakaikan kepda kami semuanya itu?’ Dijawab, ‘karena anakmu telah membawa al-Qur’an”. (HR. Al-Hakim).

5. Al Quran memberi syafa’at kepada ahlinya di akhirat
Sabda Nabi Muhammad saw: “Bacalah al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada para ahlinya.” (HR. Muslim) Dan sabda beliau Nabi Muhammad saw: “Puasa dan Al-Qur’an keduanya akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat…” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

6. Pahala bagi orang yang berkumpul untuk membaca dn mengkajinya
Nabi Muhammad saw bersabda: “Tidak berkumpul sauatu kaum di salah satu rumah Allah SWT, sedang mereka membaca kitab-Nya dan mengkajinya, melainkan mereka akan dilimpahi ketenangan, dicurahi rahmat, diliputi para malaikat, dan disanjungi oleh Allah di hadapan para makhluk dan di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud).

7. Dapat menentramkan hati
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.13:28).

8. Dapat menyembuhkan penyakit
“Hendaknya kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Al-Qur’an” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud).

9. Pembaca Al Quran dikurniakan hatinya dengan cahaya oleh Allah SWT dan dipeliharanya dari kegelapan
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra yang maksudnya: “Bahwa Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang medengar satu ayat daripada Kitab Allah Ta’ala (al-Qur’an) ditulis baginya satu kebaikan yang berlipat ganda. Siapa yang membacanya pula, baginya cahanya di hari kiamat.”

10. Pembaca Al Quran memperoleh kemulian dan diberi rahmat kepada ibu bapaknya
Nabi Muhammad saw bersabda maksudnya: “Siapa yang membaca Al-Qur’an dan beramal dengan isi kandungannya, dianugerahkan kedua ibu bapaknya mahkota di hari kiamat. Cahayanya (mahkota) lebih baik dari cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Kalaulah demikian itu matahari berada di rumahmu (dipenuhi dengan sinarnya), maka apa sangkaan kamu terhadap yang beramal dengan ini (al-Qur’an).” (HR. Abu Daud).

11. Pembaca Al Quran memperoleh kedudukan yang tinggi dalam syurga
Bersabda Rasulullah saw yang maksudnya: Dikatakan kepada pembaca al-Qur,an: “Bacalah (al-Qur’an), naiklah (pada darjat-darjat syurga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil didunia. Sesungguhnya kedudukan drajatmu sehingga kadar akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad).

12. Membaca satu huruf Al Quran akan memperoleh sepuluh kebaikan
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang membaca satu huruf kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

13. Orang yang membaca Al Quran secara terang-terangan seperti bersedekah secara terang-terangan
Rasulullah saw bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an terang-terangan seperti orang yang bersedekah terang-terangan, orang yang membaca Al-Qur’an secara tersembunyi seperti orang yang bersedekah secara sembunyi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, lihat shahihul jaami’:3105).

14. Al Quran akan menjadi syafaat bagi orang yang membacanya
Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu hadistnya “Bacalah Al Quran karena ia akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat kepada orang yang telah membaca dan mengamalkan isinya”

15. Al Quran adalah cahaya ditengah kegelapan
Sabda Rasulullah saw,”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan Al Qur’an sesungguhnya ia adalah cahaya kegelapan, petunjuk di siang hari maka bacalah dengan sungguh-sungguh.” (HR. Baihaqi)

16. Ahlul Quran adalah keluarga Allah SWT
Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.’ Beliau saw ditanya,’Siapa mereka wahai Rasulullah.’ Beliau saw menjawab,’mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

17. Yang mahir membaca dia akan bersama malaikat, dan yang terbata-bata mendapat dua pahala
Sabda Rasulullah SAW “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an kelak (mendapat tempat disurga) bersama para utusan yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan masih terbata-bata, dan merasa berat dan susah, maka dia mendapatkan dua pahala.”
Dua pahala ini, salah satunya merupakan balasan dari membaca Al-Qur’an itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah atas kesusahan dan keberatan yang dirasakan oleh pembacanya.

Demikian beberapa keutamaan yang Allah berikan kepada orang-orang yang membaca al quran sekaligus mengamalkan isi kandungannya. Semoga tulisan ini dapat mengingatkan kita untuk selalu membaca al quran kapan dan dimanapun berada. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, tidak akan bisa dimasuki setan.” (HR. Muslim)

Bacalah al quran… bacalah dan amalkanlah kandungan isi yang ada dalam al quran itu, niscaya kita semua nantinya akan termasuk orang- orang yang beruntung kelak dihari akhir nanti. semoga dengan membaca artikel di atas bisa menambah wawasan dunia islam kita.