SLIDE1

Showing posts with label BERITA ISLAM TERKINI. Show all posts
Showing posts with label BERITA ISLAM TERKINI. Show all posts

Saatnya Menghindar Diri dari Keranjingan Game COC

- No comments
Jika seseorang mau membaca Al-Quran 3 juz saja, maka dalam 3 bulan ia akan sangat mudah untuk bisa menghafalkannya.


SUATU hari seorang sahabat pernah datang ke sebuah kios jasa pengiriman di bilangan Ciputat Tangerang Selatan. Selang beberapa menit, datang seorang ibu-ibu yang datang dengan menggendong balitanya.

Tanpa ba bi bu, sang ibu yang diperkirakan sudah berumur setengah abad itu langsung berkata, “Hei, kamu gimana sekarang. Masih main CoC nggak? Ini aku lagi dapat tantangan baru loh. Terus istanaku sudah besar, tapi kemaren ada yang nyerang, nah ini aku sama grup ku mau siapkan serangan balik,” ucapnya sembari tersenyum lebar.

MasyaAllah, tidak terbayang bukan, bagaimana seorang ibu ternyata pecandu game? Tapi ini fakta. Dan, bicara Clash of Clans (CoC) nyaris penggenggam smartphone yang gemar game, pasti mengerti game perang yang disebut bergenre strategi ini.

Clash of Clans adalah sebuah game strategi di mana pemain membangun komunitas, melatih pasukan, dan menyerang pemain lain untuk mendapatkan emas, trofi ,elixir dan dark elixir, membangun pertahanan yang melindungi pemain dari serangan pemain lain, dan untuk melatih serta meningkatkan kemampuan maupun jumlah pasukan.

Seorang sahabat yang lain malah sempat melihat seorang suami istri yang sedang makan siang sedang asyik main video yang dikembangkan oleh Supercell ini.

Keduanya terlihat begitu asyik, sampai-sampai makan pun mereka tak begitu selera. Akibatnya, game yang pertama kali dikembangkan  di Helsinki, Finlandia ini benar-benar telah menjadi game yang melenakan nyaris semua umur.

Karena begitu populernya, CoC ini masuk dalam daftar berita beberapa media online, yang segenap perkembangan (update) dari game tersebut terus diwartakan. Saking hebatnya, game besutan supercell CoC itu sampai muncul berita yang menguraikan begini jadinya bila CoC ditutup.

Kehilangan Waktu

Sejauh wajar dan normal, bermain mungkin sah-sah saja. Sebab sudah naluriah manusia, yang butuh bermain. Tetapi, apakah iya, waktu, pikiran dan perasaan habis untuk game? Sampai-sampai kemana-mana bicara game dan dimana-mana terus main game?

Jika masih anak-anak, bermain terus mungkin masih dimaklumi. Tapi kalau umur sudah tidak muda, punya anak dan punya banyak tugas, apakah iya game itu harus terus diperhatikan?

Padahal waktu terus berlalu. Sementara game CoC harus selalu dimainkan. Lengah sedikit, base yang dibangun akan diserang musuh. Akhirnya waktu akan terus tergerus untuk bermain game dan bermain lagi.

Sekali waktu, cobalah untuk ingat bahwa sebagai Muslim, adakah sisi diri yang harus dikuatkan, ditingkatkan atau malah masih perlu dibiasakan. Soal membaca Al-Quran misalnya.

Jika mampu bermain game 6 jam sehari, mengapa tidak dengan membaca Quran? Katakan berat. Tetapi, mengapa tidak menyesal kehilangan waktu 6 jam setiap hari.

Coba hitung, jika sehari 6 jam, sepekan berarti 42 jam. Sebulan menjadi 168 jam habis untuk main game. Lantas bagaimana jika waktu sebanyak itu digunakan tadarus Quran, membaca buku atau menghadiri majelis ilmu?

Sadarkah diri kita bahwa waktu begitu cepat berlalu dan betapa diri telah banyak kehilangan waktu? Sebagai Muslim pemahaman Islam tidak bertambah sedang umur terus habis main game. Padahal, diri sudah 30, 40 dan bahkan mungkin 50 tahun. Tapi hal sia-sia masih sulit dihentikan dalam keseharian.

Jangan sampai kelak kita termasuk seperti yang Allah gambarkan di dalam Al-Quran.

كَأَنَّهُمْيَوْمَيَرَوْنَهَالَمْيَلْبَثُواإِلَّاعَشِيَّةًأَوْضُحَاهَا

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi’at [51] : 46).

Oleh karena itu, sadarlah bahwa tidak ada yang paling berharga yang kita miliki setelah iman dan kesehatan selain waktu. Sangat tepat jika kemudian dikatakan waktu adalah kehidupan. Jadi, waktu bukan uang. Jadi, jangan lagi kehilangan waktu dengan melakukan kesia-siaan.

مِنْحُسْنإِسْلَامالْمَرْءتَرْكهمَالَايَعْنِيه

“Diantara baiknya keIslaman seseorang adalah ketika ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Ahmad, Tarmidzi dan Ibnu Majah).

Dan, kalau diri kita masih saja enggan meninggalkan hal sia-sia, remeh-temeh, maka selamanya kita akan berkutat dengan hal-hal remeh.

Syekh Abdullah Azzam pernah berkata:

إنلمتشغلنفسكبالكبائرشغلتهاالصغائر

“Jika Anda tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang besar, maka ia akan disibukkan dengan hal-hal yang remeh.”

Kerusakan Otak

Sebuah artikel menjelaskan bahwa orang yang main game 5 jam lebih per hari akan mengalami dampak negatif.

Dalam pandangan umum medis disebutkan bahwa otak selalu menerima informasi secara konstan, termasuk saat bermain game. Imajinasi visual yang ada di game akan masuk ke dalam otak, sehingga halusinasi dari hasil bermain game itu akan keluar dari otak. Jika ini terjadi pada anak-anak, maka ia akan semakin sulit membedakan mana game mana kehidupan.

Pernah seorang sahabat bercerita, bahwa suatu kali teman yang biasanya selalu menang kala bermain game mengalami kekalahan. Dan, ketika bermain lagi, kalah lagi. Akhirnya malam hari ia bermimpi main game dan kala tidur itu kakinya menendang-nendang seperti sedang main game dengan mulut terus berteriak, sehingga ia dimarahi oleh ayah ibunya.

Selain itu, otak akan sulit diajak memahami apa yang di luar game, sehingga wajar jika kemudian motivasi anak pecandu game sangat rendah saat sekolah. Termasuk banyaknya para orang tua yang gagal fokus alias teledor dalam banyak hal karena keasyikannya main game.

Revolusi Hidup

Lantas, bagaimana cara menjauhkan diri dari kecanduan game? Secara radikal kita harus ambil langkah konkret, yakni meninggalkannya dengan segera.

Seperti yang dialami oleh Manher (bukan nama sebenarnya), ia merasa dirinya tertipu game, karena setiap saat harus main CoC. Ditinggal sebentar sudah ada musuh yang menyerang. Memang asyik ada teman, koordinasi terus supaya clan-nya menang. Tetapi, sampai kapan clan dalam game itu akan menang, karena sedikit berhenti bermain, clan lain pasti nyerang.

Menyadari game itu akan terus menyita waktunya, ia pun memutuskan berhenti. “Aku main terus, baterai cepat habis, kuota internet juga gak sedikit disedot. Nah, ku pikir ini ngabisin uang juga rupanya. Gak ada cara lain, ku unistall game itu,” kisahnya.

Setelah berhenti bermain, Manher mengaku lebih tenang hidupnya. Ternyata ia sadar bahwa banyak waktu kosong yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Sekarang Manher lebih memilih meningkatkan pemahaman dunia web ketimbang sibuk main game.

Selagi belum terlambat, ayuk sadar diri. Untuk apa main game terus? Bukankah jika waktu game itu digunakan untuk menambah kebaikan diri akan banyak hal positif yang kita dapatkan?

Seorang mentor penghafal Al-Quran berkata, bahwa jika seseorang mau membaca Al-Quran 3 juz saja, maka dalam 3 bulan ia akan sangat mudah untuk bisa menghafalkannya.

Nah kalau begitu,  kapan berhenti main game? Katakan, “Sekarang aku berhenti” itulah satu-satunya strategi menang melawan kendali CoC atas diri sendiri yang telah lama terbuai oleh strategi pemenangan ilutif. Sebab, pada kenyataannya pemain game justru kalah melawan diri sendiri .

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar

TIGA CIRI ISTRI PEMBAWA SIAL MENURUT RASULULLAH

- No comments


Pernikahan merupakan ikatan pemersatu antara laki-laki dan perempuan untuk membina keluarga yang diridhai oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan bagi para lelaki untuk dapat memilih calon istri yang sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga dapat menjadikan kehidupan rumah tangga sebagai ladang pahala.

Selain itu, seorang istri merupakan salah satu faktor penentu kesuksesan seorang suami. Dimana sikapnya yang lembut dan pribadinya yang shalehah dapat menjadi penyemangat bagi sang suami untuk bisa memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Akan tetapi, seorang istri juga berperan sebagai salah satu faktor yang bisa menghancurkan indahnya kehidupan rumah tangga.

Hal ini dapat terjadi apabila sang istri bersikap yang tidak baik terhadap suaminya. Bahkan dalam beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ath-Tabrani, Al-Bazzar serta Imam Al-Hakim menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah menyebutkan tentang 3 ciri wanita yang merupakan istri pembawa sial. Lantas, apasajakah ketiga ciri tersebut ?

Dalam sebuah riwayat, disebutkan dari Sahal bin Saad juga bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika (kesialan itu) terdapat pada sesuatu, maka ia terdapat pada kuda, istri, dan tempat tinggal.” (HR. Bukhari)

1. Jika di lihat, dia menjengkelkan
Ciri pertama dari istri yang membawa sial adalah apabila dilihat, dia menjengkelkan. tentunya seorang suami sangat mengharapkan agar ketika ia melihat istrinya, maka timbullah rasa kasih sayangnya kepada sang istri. Akan tetapi, apabila disaat ia melihat istrinya, namun yang timbul adalah rasa jengkel, maka tentu saja hal ini akan berdampak kepada kehidupan rumah tangganya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa seorang suami yang telah letih bekerja mencari nafkah, tentunya mengharapkan agar sang istri menyambutnya dengan senyuman yang manis dan tubuh yang harum. Sehingga hal tersebut dapat mengurangi rasa lelah dan letihnya dalam bekerja.

Akan tetapi, apabila ternyata sang istri justru tampil apa adanya dengan wajah yang cemberut, tubuh yang bau dan kumal, maka tentu saja sang suami akan merasa jengkel.  Sebab sang istri bukannya membantunya menghilangkan penat namun malah membuatnya semakin tidak bersemangat.

Oleh sebab itulah, di dalam Islam sangat dianjurkan bagi seorang istri untuk selalu tampil menarik bagi suaminya, sehingga dapat menambah kecintaan sang suami terhadap istrinya. Dengan begitu rumah tangga akan semakin bahagia dan damai.

2. Jika berkata, dia menyakiti
Ciri kedua seorang istri yang membawa sial adalah apabila ia berkata, maka semua perkataannya hanya menyakiti hati suaminya. Biasanya hal ini terjadi ketika seorang suami berbuat kesalahan yang menimbulkan kemarahan dari sang istri. Sehingga tidak jarang sang istri akhirnya mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati sang suami.

Padahal seorang istri sudah seharusnya bersikap dan bertutur kata yang lembut terhadap suaminya. Dan apabila ia sedang merasa marah terhadap sang suami, maka ada baiknya untuk tidak mengucapkan kata-kata yang akan menyakiti hati sang suami.

3. Jika ditinggal pergi, ia berkhianat
Ciri terakhir seorang istri yang membawa sial adalah apabila sang suami pergi meninggalkannya, maka ia berkhianat. Seorang istri memiliki kewajiban untuk menjaga kehormatan dan harta suaminya disaat sang suami pergi.

Sehingga apabila ternyata seorang istri justru berkhianat disaat sang suami sedang pergi, maka hal ini bukan saja akan menjadi kesialan bagi sang suami namun juga mendatangkan murka dari Allah SWT.

Demikianlah 3 ciri istri yang membawa sial bagi suaminya. Akan tetapi perlu diketahui pula bahwa sejatinya sikap istri yang seperti ini bisa diubah. Oleh sebab itu, seorang suami memegang peranan yang sangat penting, karena salah satu kewajiban suami adalah mengayomi serta menuntun sang istri agar bisa menjadi pasangan hidup yang baik.

Selain itu, seorang suami juga berkewajiban untuk memberikan pemahaman agama tentang kewajiban seorang istri terhadap suaminya. Sehingga sang istri dapat mengerti bahwa segala sikap dan perbuatannya tersebut adalah terlarang di dalam Islam. Dengan begitu sang istri dapat berubah, dan rumah tangga pun menjadi bahagia.

SUBHANALLAH, RATU KECANTIKAN SUJUD DI KAKI IBUNDA YANG HANYA SEORANG PEMULUNG, SEBARKANLAH !!!

- No comments


Seorang gadis asal Thailand bernama Mint Kanistha, 17, baru-baru ini menjadi perbincangan netizen. Ini lantaran kisah hidup dan kepribadiannya yang luar biasa.

Dalam foto-foto yang dirilis di laman siakapkeli.my, terlihat keseharian Mint yang bekerja membantu ibunya sebagai pemulung. Meski dengan ekonomi yang pas-pasan Mint ternyata tak malu menjalani hidupnya.

Dengan penuh perjuangan, dirinya kemudian mengikuti ajang bernama Miss Uncensored News Thailand. Ajang itu merupakan kesempatan bagi para perempuan untuk bersaing tanpa memedulikan latar belakang sosial mereka.

Dalam ajang yang digelar itu Mint berhasil keluar sebagai pemenang utama. Dia pun berhak memeroleh hadiah utama sebesar 200 ribu bath (Rp 77 juta).

Meski menjadi pemenang, dia tak lupa dengan ibunya. Setelah menjadi juara, dirinya kemudian terlihat bersujud kepada sang ibu.

JENAZAH ITU MENGELUARKAN AIR MATA

- No comments


SUNGGUH mulia pekerjaan yang dijalani Hj Siti Hawa Gofar. Sudah puluhan tahun dia menjadi tukang memandikan jenazah.

KHOIRNNNISAK - Palembang

USIANYA sudah menginjak 70 tahun. Namun Hj Siti Hawa Gofar, masih terlihat segar dan sehat, saat ditemui di rumahnya, Jl Cempaka, Kelurahan 26 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang, kemarin.

“Alhamdulillah, sehat,” ucapnya, mengawali perbincangan dengan Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group).

Tak terasa, tuturnya, dia sudah menjadi pekerjaan sebagai tukang memandikan jenazah selama 30 tahun. Dijalaninya apa adanya, karena profesi itu bukan pekerjaan asing baginya. Sebab, almarhumah ibunya dulu juga berprofesi sama. “Ibu sering dipanggil, untuk memandikan jenazah,” katanya.

Terkadang, Siti pun ikut bersama ibunya. Akhirnya, dia pun belajar dan bergabung dengan paguyuban pemandi jenazah di Masjid Baiturahman.

"Saya ikut pelatihan seminggu, dan langsung praktek memandikan jenazah," kenang ibu lima anak itu.

Pertama kali menjadi bilal, usia Siti saat itu 40 tahun. Dirinya diminta keluarga temannya yang tinggal di rumah susun. Meski baru pertama kali, tidak ada rasa takut dalam dirinya.

Toh pikirnya, semua orang pasti akan mati. Apalagi dia, sudah mendapatkan pelatihan sebelumnya.

Diakui Siti, untuk memandikan jenazah hingga benar-benar bersih, perlu waktu agak lama. Mulai dari ujung rambut, sampai ujung kuku, bisa memakan waktu satu hingga 1,5 jam.

Terpenting pula, jenazah yang dimandikan harus sejenis, yakni perempuan.

“Pernah juga memandikan jenazah korban kecelakaan. Tapi lebih banyak yang meninggal karena sakit,” imbuhnya.

Setelah dimandikan, jelas Siti, jenazah langsung dikafani. Karena jenazah perempuan, kain kafan yang digunakan sepanjang 14 meter. Karena akan dibuatkan baju dan celana. Perlengkapan lainnya, kapas, ramuan, kapas gulung, dan lainnya.

Siti cerita, setiap minggunya pasti ada saja “pasien”. Tak hanya di lingkungan keluarahan/kecamatan tinggalnya, tapi juga pernah diminta tolong sampai ke daerah Plaju.

“Saya tidak pernah meminta imbalan. Tapi ada saja keluarga     almarhum, yang memberikan sebagai ucapan terima kasih,” akunya.

Sahabat dari Hj Maphilinda Syahrial Oesman itu mengaku ada pengalaman yang berkesan selama dia mengurus jenazah.

Kala itu, ada jenazah yang mengeluarkan air mata saat dimandikan Siti. “Saya langsung usap matanya, bisikkan Ayat Suci agar si jenazah dapat ikhlas dengan kepergiannya,” beber Siti.

Biasanya, sebelum mendapat job memandikan jenazah, Siti sering mendapatkan firasat. Misalnya bermimpi pada malam hari, didatangi oleh jenazah yang bersangkutan. “Paginya, yang bersangkutan meninggal dunia,” tuturnya.

Kini, Siti sudah tidak terlalu aktif lagi menjadi pekerjaan itu. Dia bersyukur, sudah mulai banyak generasi penerusnya yang muncul. Dia hanya sesekali, memandikan jenazah di sekitar lingkungannya.

Untuk mempermudah warga yang sedang tertimpa musibah, Siti juga menjual perlengkapan untuk orang meninggal.

PILIH MISKIN YANG SABAR ATAU KAYA YANG BERSYUKUR

- No comments


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Manakah yang lebih baik, miskin yang sabar ataukah kaya yang bersyukur?

Jika kita disodori dua pilihan ini, jujur saja, akan banyak diatara kita yang mengambil pilihan kedua, kaya yang bersyukur. Karena secara naluri, kita lebih siap untuk menikmati kekayaan dari pada menderita kemiskinan.

Antara Nabi Ayub & Nabi Sulaiman ‘alaihimas Salam

Dalam perjalanan panjang sejarah kehidupan manusia, Allah telah mencipatakan dua tipe mausia di atas, agar dijadikan panutan bagi masyarakat generasi berikutnya.

Allah ciptakan Nabi Ayub sebagai sosok yang dikenal sangat penyabar, di tengah ujian sangat berat yang beliau alami. Terkadang ada orang yang diberi nikmat harta namun tidak memiliki nikmat sehat. Dia tidak bisa menikmati hartanya, karena sakit-sakitan.

Sebaliknya, ada yang diberi nikmat sehat wal-afiyat tapi tidak berharta. Ketika dia menginginkan untuk menikmati banyak hal, namun tidak bisa terwujud. Karena kantongnya tidak cukup untuk menjangkaunya. Yang terjadi pada Nabi Ayub, beliau mendapatkan kedua-duanya. Beliau menderita kemiskinan sangat parah, dan sakit fisik yang juga sangat mengenaskan. Allah sebutkan doa Ayub,

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

Ingatlah hamba Kami, Ayub. Ketika dia berdoa memanggil Rabnya, “Sesunngguhnya setan menimpakan kemadharatan kepada dengannusb dan adzab.” (QS. Shad: 41)

Sebagian ahli tafsir menyebutkan,

Makna nusb     : musibah sakit yang beliau derita

Makna adzab   : musibah yang membersihakn semua harta dan anaknya.

Sebelumnya, Ayub adalah oang soleh yang sangat kaya, hartanya melimpah dan memiliki banyak anak. Allah mengujinya, dengan membalik keadaannya. Hebatnya, datangnya semua ujian itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Semua anaknya diambil berikut hartanya. Sanak kerabatnya menjauhinya, hingga beliau harus keliling dari satu sampah ke sampah untuk mendapatkan sesuap makanan. Sampai akhirnya beliau sakit parah, tidak ada bagian kulit seluas titik jarum yang sepi dari penyakit. Semua orang menjauhinya, selain satu istrinya yang setia mendampinginya, karena imannya kepada Allah. Semoga Allah meridhai istri Ayub. Menurut catatan Ibnu Katsir, ini terjadi selama 18 tahun. (Tafsir Ibn Katsir, 7/74).

Di sisi lain, Allah ciptakan Nabi Sulaiman sebagai sosok yang dikenal sangat pandai bersyukur, di tengah melimpahnya fasilitas dunia yang beliau miliki. Beliau menjadi raja  yang kekuasaan meliputi alam manusia, jin, dan binatang. Itulah doa beliau yang Allah kabulkan, sehingga beliau menjadi penguasa paling top markotop diantara manusia.

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Sulaiman berdoa, wahai Rabku, berikanlah aku kerajaan yang tidak layak untuk dimiliki oleh seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pemberi. (QS. Shad: 35)

Dua model manusia ini, Allah sandingkan ceritanya dalam surat Shad, antara ayat 30 sampai 44. Dan keduannya, baik Ayub maupun Sulaiman, Allah sebut di akhir cerita,

نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Dia (Sulaiman dan Ayub) adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia orang yang suka bertaubat. (QS. Shad: 30 dan 44).

Artinya, baik miskin yang sabar maupun kaya yang bersyukur, di sisi Allah statusnya sama-sama hamba yang baik. Tinggal selanjutnya, siapa yang lebih bertaqwa diantara mereka, itulah yang terbaik. Allah berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa. (QS. al-Hujurat: 13).

Sosok Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Beliau Uswatun Hasanah bagi umat. Satu-satunya manusia yang hidupnya dijadikan sumpah oleh Allah. Ketika Allah menceritakan kejahatan kaum sodom, Allah bersumpah menyebut ‘Demi umurmu.’

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka mabuk dalam kesesatan. (al-Hijr: 72).

Allah bersumpah demi umur, kehidupan dan keberadaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia.

Ibnu Katsir menyebutkan riwayat keterangan dari Ibnu Abbas,

ما خلق الله وما ذرأ وما برأ نفسًا أكرم عليه من محمد صلى الله عليه وسلم، وما سمعت الله أقسم بحياة أحد غيره

Belum pernah Allah menciptakan dan menumbuhkan manusia yang lebih mulia dari pada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku belum pernah mendengar Allah bersumpah dengan kehidupan seorangpun selain beliau. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/542).

Dalam urusan syukur dan sabar, beliau mengumpulkan akhlak Nabi Ayub dan akhlak Nabi Sulaiman. Beliau kaya yang bersyukur dan sekaligus miskin yang sabar.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

مَا سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الإِسْلاَمِ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ – قَالَ – فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah diminta untuk kemaslahatan islam, kecuali beliau pasti memberinya. Hingga suatu ketika datang seseorang (kepala suku), kemudian beliau memberikan kambing satu lembah kepada orang ini. Spontan dia pulang ke sukunya, dan mengatakan, “Wahai kaummu, masuklah ke dalam islam. Karena Muhammad memberikan harta layaknya orang yang tidak takut miskin.” (HR. Muslim 6160).

Dan hingga kini, kita belum pernah menjumpai ada orang yang mendermakan harta kambing satu lembah.

Beliau juga pernah memotong 100 ekor onta. Jika satu onta seharga 12 juta, berarti beliau berkurban senilai kurang lebih 1,2 Milyar. Itu korban perorangan, bukan perusahaan.

Di sisi lain, beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu, karena tidak memiliki makanan. Beliau dan para istrinya tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut.

Aisyah menjadi saksi sejarah kehidupan di keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا ، حَتَّى قُبِضَ

Tidak pernah keluarga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan. (HR. Bukhari 5416, Muslim 7633 dan yang lainnya).

Kita yakin, kondisi semacam ini tidak pernah kita jumpai di keluarga kita. Kita tidak pernah sampai berfikir: adakah makanan esok pagi? Bahkan untuk bisa kenyang selama 1 bulan, kita tidak pernah memikirkannya.

Mengalir Sesuai Keadaan

Siapapun orangnya, dia tidak akan bisa memilih dan memaksakan diri untuk menjadi miskin yang sabar atau kaya yang bersyukur. Anda yang berada dalam kondisi miskin, tidak bisa memaksa Sang Pencipta untuk menjadikan anda kaya. Demikian pula sebaliknya. Anda yang dalam kondisi kecukupan, tidak bisa memaksa Sang Kuasa untuk mengubah anda agar bisa mencicipi kemiskinan.

Itu berarti, yang seharusnya yang dominan di pikiran orang kaya bukan bagaimana bisa jadi miskin, namun bagaimana dia bisa memaksimalkan syukur kepada Allah. Karena itulah yang menjadi tugasnya. Dan Saya yakin, semua orang sepakat akan hal ini.

Kita simak kondisi sebaliknya, seharusnya yang fokus dipikirkan orang miskin bukan bagaimana dia bisa jadi kaya. Namun yang dia pikirkan, bagaimana dia bisa ridha dengan ketetapan Allah dan bersabar. Karena itulah tugasnya.

Anda sepakat ini??

Seperti inilah yang dinasehatkan oleh cucu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma,

مَنِ اتَّـكَـلَ عَلَى حُسْنِ اخْتِيَارِ اللهِ لَـهُ لَـمْ يَـتَـمَنَّ شَيئًا

Siapa yang pasrah terhadap pilihan terbaik yang Allah berikan kepadanya, dia tidak berangan-angan untuk menggapai sesuatu yang lain. (Kanzul Ummal, Ibnu Asakir, no. 8538).

Jika ada yang komentar, ‘Berarti anda memotivasi orang miskin agar tetap jadi miskin, dan tidak bekerja, atau berusaha.’

Bagi yang berkomentar demikian, berarti daya tangkapnya terlalu rendah untuk memahami kalimat di atas. Sama sekali keterangan di atas tidak berisi motivasi orang miskin untuk tidak bekerja dan berusaha. Hanya menjelaskan tugas orang miskin di kondisi miskinnya, yaitu ridha dan bersabar. Sementara urusan bekerja dan mengejar dunia, ini sejalan dengan nafsunya, sehingga tidak perlu banyak motivasi.

Mukmin: Antara Sabar dan Syukur

Inilah tabiat setiap mukmin sejati. Mereka tidak pernah lepas dari dua tugas itu, antara bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika musibah. Bahkan tabiat ini membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamterheran dengan mereka. Dalam sebuah sabdanya, beliau memuji orang yang beriman,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh mengherankan kondisi orang yang beriman, semua urusannya baik. Itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Ketika dia mendapatkan kenikmatan, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan ketika dia mendapatkan musibah, dia bersabar, dan itu baik baginya. ( 8/1/15 )

(HR. Muslim 7692 dan Ibnu Hibban 2896)

Isi dari konsultasisyariah.com

MANFAAT SHOLAT BERJAMAAH

- No comments


Menurut Jumhur Ulama’, Hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakkad, sedangkan menurut Imam Ahmad Bin Hanbal, sholat berjama’ah hukumnya wajib. Rasulullah SAW selama hidupnya sebagai Rasul belum pernah meninggalkan shalat berjama’ah di masjid meskipun beliau dalam keadaan sakit. Rasululah SAW pernah memperingatkan dengan keras keharusan sholat berjama’ah di masjid, sebagai mana diuraikan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim berikut :

“Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku bertekad menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku suruh seorang adzan untuk sholat dan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi kepada orang-orang yang tidak ikut sholat, kemudian aku bakar rumah mereka”

Pada suatu saat Rosulullah didatangi oleh salah satu sahabat yang dicintainya, yaitu Abdullah Bin Umi Maktum. Ia berkata kepada Rasulullah bahwa dirinya buta dan tidak ada yang menuntunnya ke masjid sehingga ia memohon kepada Nabi untuk memberinya keringanan untuk tidak melaksanakan sholat berjama’ah di masjid. Selanjutnya Rosulullah bertanya kepadanya:

Begitulah seruan Rasulullah kepada umatnya agar senantiasa menunaikan shalat berjamaah di masjid sekalipun kepada sahabatnya yang tidak bisa melihat alias buta. Bagaimana dengan kita umatnya, yang diberikan kenikmatan yang sempurna. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rosulullah bersabda :
“Tidak sempurna shalat seseorang yang bertetangga dengan masjid kecuali dengan berjama’ah. Dalam suatu riwayat, kecuali di masjid”.

Hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya shalat berjama’ah. Rasulullah menekankan bahwa shalat jama’ah dilaksanakan di Masjid. Karena masjid didirikan bukan untuk bemegah-megahan, melainkan untuk diramaikan atau dimakmurkan. Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 18 :
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.”

Banyak keutamaan Shalat Berjamaah yang bisa diperoleh ketika seseorang menunaikan shalat berjama’ah. Ada keutamaan yang diperoleh di dunia dan juga ada keutamaan yang bisa diperoleh nanti di akhirat.
Diantara manfaat dari sholat berjamaah adalah sebagai berikut :

1. Allah akan melipatgandakan pahala sholat berjama’ah sampai dua puluh tujuh derajat.
“Sholat berjama’ah itu lebih utama dari sholat sendiri dengan dilipatkan sampai dua puluh tujuh derajat”

2. Menjauhkan diri dari sifat munafik. Karena di antara sifat orang munafik adalah bermalas-malasan dalam sholat. Hal ini tertera dalam surat An-Nisa’ ayat 142 :
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah. Dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”
Dalam sebuah hadits Nabi bersabda :
“Tidaklah ada sholat yang lebih berat bagi orang-orang munafik melebihi sholat Shubuh dan Isya’. Dan seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya, niscaya mereka akan datang (berjama’ah) meskipun dengan merangkak.” (Muttafaqun ‘Alaih)

3. Menjadi sebab diampuni dosanya oleh Allah. Rosulullah bersabda :
“Jika imam mengucapkan “Ghoiril maghdhubi ‘alaihim waladhdholliin”, maka ucapkan amin, karena sesungguhnya siapa yang mengucapkan amin bersamaan dengan ucapan malaikat maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Dalam hadits lain Nabi bersabda :
“Barangsiapa yang berwudhu untuk sholat dan menyempurnakan wudhunya, lalu berjalan untuk menunaikan sholat, dan ia sholat bersama manusia atau berjama’ah atau di dalam masjid, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”

4. Mengembangkan disiplin dan berakhlak mulia. Sholat berjama’ah mengajarkan disiplin seorang makmun senantiasa mengikuti gerakan imam dan berada di belakang imam. Hal ini tentu membiasakan melatih kedisiplinan dalam kehidupan seseorang, menghilangkan ego, perbedaan dan dengan penuh kerendahan hati patuh dan taat pada pimpinannya, yaitu imam.”
Rosulullah bersabda :

5. Tumbuhnya persaudaraan, kasih sayang dan persamaan.
Apabila kita bertemu lima kali dalam sehari, maka akan tumbuh kasih sayang diantara sesama muslim. Dan jika suatu waktu ada saudara kita yang biasa berjama’ah kemudian beberapa waktu tidak hadir di masjid, maka kita akan bertanya-tanya, ada apa atau mengapa ia tidak berjama’ah? Seandainya jawaban yang didapat bahwa beliau itu sakit, maka kita akan bergegas menjenguk dan mendo’akannya.

Sholat berjama’ah juga mengajarkan persamaan : tidak dibedakan antara yang kaya dan yang miskin, seorang pejabat atau rakyat jelata, atasan atau bawahan, semua berdiri, ruku’, sujud, dan duduk dalam satu barisan untuk taat dan tunduk kepada Allah. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya, dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang sangat kokoh”.
Oleh : KH. Zainal Arifin Abu Bakar ( Ketua LDNU, Pengasuh Pesantren Denanyar )
Sumber : m-alwi.com

BERFIKIRLAH POSITIF DAN RASAKAN KEAJAIBANNYA

- No comments
Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak.

”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya” (W.W. Ziege)

PERNAHKAH Anda mendengar atau membaca kisah sukses Abdurrahman bin ’Auf. Sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga ini adalah cermin yang mesti kita tiru dalam hidup ini. Kesuksesannya berbisnis tak membuatnya sombong dan berbangga diri, tapi sebaliknya ia tetap menunjukkan kebersahajaan dan keikhlasannya untuk berbagi bahkan berbagi sesuatu yang paling ia cintai.

Salah satu yang menarik diri pribadi beliau adalah keyakinannya yang baik akan potensi dirinya. Kalimat yang pernah terluncur dari lisan beliau yang mashyur adalah, “Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak……!” Abdurrahman bin Auf memberikan contoh konsep diri yang baik kepada kita. Konsep diri berupa keyakinan akan potensi yang luar biasa yang ada pada setiap diri manusia.

Kalimat di atas adalah bukan isyarat kesombongan dari seorang Abdurrahman bin ’Auf tapi sebuah pikiran positif terhadap potensi yang diberikan Allah kepada setiap hamba-Nya.

Karena sesungguhnya karunia Allah begitu luas di muka bumi maupun langit ini. Persoalannya tinggal bagaimana kita mampu menggali potensi lalu mengembangkan potensi dan karunia Allah tersebut. Sehingga kita mampu mendapatkan manfaat dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Abdurrahman bin ’Auf telah membuktikan bahwa untuk mencapai kesuksesan modal awal yang harus dimiliki setiap insan adalah berpikir positif terhadap dirinya, yakni memberikan kepercayaan, keyakinan akan potensi besar yang ada pada dirinya. Setelah meyakini diri sendiri, Abdurrahman bin ’Auf mencontohkan kepada kita bagaimana bagaimana ia membangun keyakinan akan kekuasaan Allah.

Yakinlah, bahwa Allah tak pernah tidur. Allah akan memberikan apapun yang diminta hamba-Nya, selagi hambanya melakukan ikhtiar yang maksimal untuk membuktikan pikiran positifnya tersebut.

Abdurrahman bin Auf mengatakan, ”Seandainya aku mengangkat batu niscaya ketemukan di bawahnya emas dan perak ….!”

Tahukah Anda apa isyarat apa yang mau digambarkan Abdurrahman bin ’Auf tersebut? Ia sedang mengisyaratkan jika hamba-hamba Allah mau bekerja, berjuang, berikhtiar dan melakukan kreatifitas maka pasti akan menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat kepada dirinya.

Konsep di atas bukan isapan jempol, Kita tahu bahwa Abdurrahman bin ’Auf adalah sahabat terkaya di Mekkah. Pasti kita juga masih ingat kisah hijrah penduduk Mekkah ke Madinah.

Hijrah yang dilakukan nabi dan para sahabat muhajirin mengharuskan Abdurrahman bin ’Auf meninggalkan harta kekayaannya. Seperti juga sahabat lainnya Abdurrahman bin ’Auf hanya membawa harta secukupnya untuk di bawa ke Madinah. Ia adalah sosok manusia yang tidak menggenggam hartanya di hati, ia bisa mengikhlaskan apa yang ia tinggalkan tersebut.

Maka, ketika di sampai di Madinah sahabat anshor menawarkan kepadanya harta kekayaan karena mereka tahu bahwa Abdurahman adalah orang kaya yang telah meninggalkan hartanya untuk hijrah ke Madina mengikuti perintah nabi. Tapi, Abdurrahman bin ’Auf menolak tawaran harta sahabat Anshor tersebut. Ia lebih memilih untuk diberitahu di mana pasar berada. Ia ingin memulai bisnis baru di Madinah. Apakah yang diperdagangkan Abdurrahman bin ’Auf? Ia memulai bisnis tali pengikat kuda. Dan inilah awal bisnis Abdurrahman bin ’Auf yang selanjutnya mengembalikan hartanya yang telah ia tinggalkan. Abdurrahman bin ’Auf sukses berbisnis di Madinah.

Apa pelajaran yang perlu kita ambil dari cerita di atas adalah bahwa modal kesuksesan adalah tidak semata faktor modal materi dan pendidikan yang tinggi. Sukses selalu diawali oleh pikiran positif seseorang dalam memandang dirinya, meyakini kekuasaan Allah dan cara pandang terhadap kehidupan yang akan ia jalani. Ketika kita berpikir positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi dari pada bereaksi karena kita akan lebih fokus mencapai tujuan kita dari pada memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita.

Robert J. Hasting pernah berkata, “Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang”.

Sekarang saatnya diri Anda memutuskan apakah Anda ingin menjadi pribadi sukses atau menjadi pecundang yang terus berpikir kalah dan gagal. Pastikan diri kita adalah pemenang!*

Nur Jamaludin, kandidat Master of Economics di International Islamic University Malaysia (IIUM), Anggota ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur Malaysia

Berapa Kali Baca al-Quran Dibanding Buka Gadget?

- No comments
Bertanyalah kepada bocah-bocah SD yang sekarang ini sudah menenteng HP kemana-mana, untuk apa alat itu mereka pergunakan? Anda pasti sudah bisa menduga jawabannya

IMAM Ibnu Katsir berkata, “Allah menceritakan perihal Rasul dan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang diabaikan.” Hal itu dikarenakan kaum musyrikin tidak mau memperhatikan al-Qur’an, tidak juga mendengarkannya, sebagaimana firman Allah:


وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (QS. Fushshilat: 26).

Bila al-Qur’an dibacakan, mereka membikin banyak keributan dan membicarakan hal-hal lain, sehingga tidak bisa mendengar bacaannya. Ini termasuk mengabaikan al-Qur’an. Tidak mau mengamalkan dan menghafalnya, juga termasuk mengabaikannya. Tidak mau mengimani dan membenarkannya, juga termasuk mengabaikannya. Tidak mau merenungkan dan memahaminya, juga termasuk mengabaikannya. Tidak mau mengamalkannya, mematuhi perintah-perintahnya, dan menjauhi larangan-larangannya, juga termasuk mengabaikannya.
Kita justru sering condong kepada selain al-Qur’an, seperti syair, perkataan orang, nyanyian, permainan, ungkapan, atau tata-cara yang diambil dari selain al-Qur’an, juga termasuk mengabaikannya.

Kami memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Maha Pemberi, dan Berkuasa atas segala sesuatu, agar menyelamatkan kita dari hal-hal yang mengundang murka-Nya, memperjalankan kita di dalam hal-hal yang mendatangkan ridha-Nya, seperti menghafalkan dan memahami Kitab-Nya, serta menegakkan konsekuensi-konsekuensinya sepanjang siang maupun malam, menurut cara yang Dia cintai dan ridhai. Sungguh Dia Maha Pemurah lagi Maha Pemberi,” demikian kata Ibnu Katsir.

Menurut al-Hafizh Ibnul Jauzi, banyak ulama lain yang berpandangan bahwa kalimat tersebut diucapkan oleh Rasulullah pada Hari Kiamat, ketika mendapati kenyataan sebagian umatnya yang tersesat, padahal Allah telah menurunkan bimbingan yang jelas, mudah, dan lengkap. Seolah-olah Allah bertanya kepada beliau, “Mengapa mereka masih bisa tersesat?” Jawaban beliau pasti, “Karena mereka tidak memperdulikan petunjuk-Mu, ya Allah.”

Oleh karenanya, Ibnu Mas’ud berpesan: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah sajian hidangan dari Allah (ma’dubatullah), maka ambillah darinya semaksimal yang kalian mampu. Sungguh, aku tidak melihat sesuatu yang lebih remeh dibanding sebuah rumah yang di dalamnya tidak ada sedikit pun bagian dari Kitabullah. Sungguh hati yang di dalamnya tidak ada sedikit pun bagian dari Kitabullah pastilah roboh, seperti robohnya rumah yang tidak berpenghuni.” (Riwayat ad-Darimi. Para perawinya terpercaya).

Lebih sering mana dengan smartphone

Mari mengevaluasi diri sendiri. Berapa banyak bagian dari Kitabullah yang ada di rumah kita? Tentu saja, bukan hanya Mushhaf dan terjemahannya, namun nilai-nilai, ajaran, dan bacaannya. Ketika al-Qur’an menyuruh menegakkan shalat, bagaimana di rumah kita? Saat al-Qur’an menyeru kaum wanita agar menutup aurat, seperti apa perilaku para wanita dari keluarga kita? Tatkala al-Qur’an menyuruh menjauhi perzinaan, bagaimana sikap kita? Di antara berbagai suara yang biasa terdengar dari rumah kita, apakah di antaranya terdapat bacaan aAl-Qur’an? Apakah ada bagian dari al-Qur’an yang bersemayam di hati dan pikiran kita? Bandingkan, lebih ringan mana: melantunkan nyanyian atau ayat-ayat Allah? Jika jawaban dari seluruh renungan ini negatif, maka pengaduan Rasulullah diatas sangatlah pantas, dan anjuran Ibnu Mas’ud pun amat tepat.

Renungan seperti ini sangat relevan sekarang. Kita hidup di zaman yang memberi kesempatan seluas-luasnya untuk berbagai hal, termasuk mengkaji aneka ide, gagasan, dan agama. Dengan perangkat-perangkat berteknologi mutakhir yang membanjiri pasar, sekaligus didukung kemampuan software dan operating system yang canggih, ditambah harga yang cukup terjangkau, sesungguhnya pilihan telah berada di ujung jari kita.

Dulu, seseorang harus mendatangi perpustakaan besar untuk mengkaji tafsir-tafsir otoritatif, namun kini justru kitab-kitab itu yang mendatanginya dalam bentuk digital contents yang praktis, ringan, dan seringkali gratis.

Demikian pula kitab-kitab hadits, akidah, siroh, sejarah, adab, akhlak, dsb. Pilihan bahasanya pun sangat luas, mulai dari bahasa internasional seperti Arab dan Inggris, atau berbagai bahasa yang kebanyakan hanya kita kenal namanya seperti Swahili, Malayalam, Amharic, dst.
Anda pasti tahu, bahwa sebuah perangkat elektronik yang amat tipis dan bobotnya tidak lebih dari satu kilogram, kini sanggup memuat ribuan kitab yang jika dicetak harus diangkut oleh beberapa truk trailer!

Banyak pula sofware yang bisa dengan mudah kita membaca al-Quran, mendalami isinya atau juga hadits-hadits.

Sayangnya, kemampuan gadget semacam itu lebih banyak diarahkan kepada yang negatif dan sia-sia. Mayoritas laptop, BB, i-Pad, smartphone, dsb. justru dipadati games dan sarana hiburan.

Bertanyalah kepada bocah-bocah SD yang sekarang ini sudah menenteng HP kemana-mana, untuk apa alat itu mereka pergunakan? Anda pasti sudah bisa menduga jawabannya. Yang jelas, bukan untuk mengakses ayat al-Qur’an, hadits Nabi, referensi standar, atau kisah teladan.

Sesungguhnya, ketika kitab-kitab standar bisa mendatangi kita dengan hanya memencet tombol, pada kenyataannya buku dan artikel “sampah” atau materi pornografi, juga sama mudahnya untuk mendatangi kita melalui alat-alat itu. Mengapa kita tidak memilih yang berguna, agar alat-alat yang kita beli dengan harga mahal itu tidak sulit dipertanggungjawabkan di akhirat?

Sebagai seorang Muslim, ada baiknya kita mewaspadai watak setiap peradaban. Boleh menggunakan alat-alat sebagai bagian produk peradaban, namun seharusnya bersikap hati-hati. Seperti tubuh, kita akan mati jika menolak mengonsumsi apa saja, tetapi kita juga akan mati jika mau memakan apa saja. Ada bahan yang baik bagi tubuh, ada juga yang buruk.

Perangkat-perangkat itu, yakni contents di dalamnya, semestinya kita sikapi seperti makanan bagi jiwa dan pikiran. Jangan ditolak semuanya, tetapi jangan diterima semuanya. Kita harus memakainya secara bijak, termasuk mengajari anak-anak kita bagaimana menggunakannya.
Inti dakwah Rasulullah adalah menyampaikan Al-Qur’an kepada segenap umat manusia; dan beliau tidak pernah bergeser darinya. Maka, sikap manusia pun terbelah secara nyata. Dan, betapa sering beliau harus menghadapi kenyataan-kenyataan getir, sampai-sampai beliau mengadu kepada Allah tentang perilaku mereka:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً

Berkatalah Rasul: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang diabaikan.” (QS. al-Furqan: 30).

Apakah maksud pengaduan beliau ini?

Kita patut khawatir, jangan-jangan zaman inilah penyumbang terbesar pengaduan Rasulullah kepada Tuhannya di akhirat nanti, padahal kita berada di dalamnya. Yakni, ketika lebih banyak orang yang tidak lagi perduli kepada Kitabullah, dan justru khidmat menyimak wejangan penyanyi, khusyu’ mengejer level game-game, manggut-manggut pada bualan peramal, dan penuh takzim pada saran dari para budak materi dan penyembah dunia. Jika kelak Rasulullah mengucapkan kalimat itu di hadapan Allah, apakah kita termasuk di dalamnya? Na’udzu billah.

Saatnya Mengendalikan Nafsu Gaya Belanja

- No comments
Kekayaan 3 triliun Mike Tyson akhirnya ludes karena boros. Akibat gaya hidup bermewahan itu, delapan bulan kemudian, dia menyatakan bangkrut.

Mike Tyson, pernah memiliki kekayaan senilai 300 juta Dolar AS atau Rp 3 triliun lebih. Sekali tampil di ring tinju saja dia bisa mendapatkan bayaran hingga 30 juta Dolar AS (sekitar Rp 300 miliar).

Dari uangnya yang sangat banyak itu, dia membeli rumah mewah, mobil super mahal, dan benda-benda mahal lainnya. Pada akhir tahun 2002, Tyson membeli gelang emas 174 ribu Dolar AS (sekitar Rp 1,7 miliar). Bahkan “si leher beton” itu juga memiliki seekor harimau Bengal (India) yang tentu saja dia beli dengan harga yang sangat mahal.

Bagi orang zaman sekarang, sosok dengan gaya hidup seperti itu mungkin banyak menjadi impian. Kaya raya dan bisa membeli apa saja yang diinginkan. Rasanya bangga bisa memamerkan belanjaan barang-barang mewah nan mahal; bepergian dengan kendaraan berharga miliaran; berfoya-foya kesana-kemari.

Namun bagi orang yang menjalani hidup benar-benar dengan nilai iman, tentu cara hidup boros itu bukanlah pilihan, bahkan harus dijauhi. Karena harta kekayaan yang kita miliki, pada hakikatnya titipan Ilahi. Kita harus mengendalikan penggunaannya sesuai dengan petunjuk-Nya. Semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya.

Kita di dunia ini seperti musafir. Kampung kita yang sebenarnya adalah akhirat. Di saat maut menjemput, barang mewah, kendaraan mahal, rumah besar, semuanya akan ditinggal. Setiap kita akan berpindah ke lubang kubur yang sempit dan gelap, berdinding dan berlantai tanah, hanya berpakaian dua helai kain kafan. Itulah akhir kehidupan dunia yang fana.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegahan-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk dalam kubur.” (at-Takatsur [102]: 1-2).

Jangan Boros, Berhematlah

Betapa pun besarnya penghasilan, cepat atau lambat gaya hidup boros hanya akan menjerumuskan kita dalam kemiskinan. Karena seorang pemboros, daftar belanja yang harus dipenuhi jauh lebih besar daripada penghasilannya. Meski penghasilannya sebulan satu milyar, jika keinginan belanjanya dua milyar, pada hakikatnya ia telah miskin. Jika dia tak segera mengendalikan gaya hidupnya itu, ia akan benar- benar jatuh miskin.

Itulah yang dialami oleh Mike Tyson. Kekayaan 3 triliun itu akhirnya ludes karena boros. Akibat gaya hidup bermewahan itu, delapan bulan kemudian, dia menyatakan bangkrut, bahkan memiliki utang hingga 23 juta dolar AS (sekitar Rp 230 miliar).

Jika orang berpenghasilan miliaran saja bisa bangkrut, apatah lagi orang yang berpenghasilan pas-pasan. Jika tak hemat, akan terjadi fenomena “besar pasak daripada tiang”.

Penghasilan yang minim memang suatu persoalan. Tetapi hidup boros, kian menjerembabkan dalam persoalan yang lebih dalam. Bahkan, dinaikkannya gaji tidak akan pernah cukup jika hobi boros masih terus dilakukan.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, tabdzir (pemborosan) adalah membelanjakan sesuatu bukan pada jalan yang benar. Karena itu gaya hidup boros tidak harus dalam bentuk mengeluarkan uang berjuta- juta. Belanja puluhan ribu saja sudah bisa terbilang boros jika digunakan pada kemubadziran.

Qatadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru, dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 8: 474-475).

Bila gaya hidup boros ini selalu dituruti, seseorang bisa terjerembab ke dalam kemaksiatan. Pertama ia telah menggunakan hartanya untuk menuruti keinginan nafsunya berfoya-foya. Kemudian dengan boros itu, harta titipan Tuhan dirusaknya dan dihabiskannya untuk hal-hal yang tidak semestinya, bahkan sering kali menjurus ke yang haram.

Umar ra berkata, “Saya masuk ke dalam rumah Nabi saw, ketika beliau sedang bertelekan pada sebuah tikar kasar sehingga berbekas pada tubuhnya. Aku pun melihat perabotannya, kulihat beliau hanya memiliki segenggam tepung sebanyak 1 sha’.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dengan berhemat, separuh persoalan telah terselesaikan. Karena aspek pengeluaran yang terkendali, akan banyak menyelamatkan orang dari kerumitan yang tidak perlu terjadi. Hidupnya lebih tenang karena fokus kepada kebutuhan yang penting dan tidak diperbudak oleh keinginan.

Saat berbelanja senantiasa terkendali dan berpikir sehat mana yang benar- benar diperlukan. Dengan begitu seorang yang berhemat akan bisa hidup cukup, bahkan bisa menabung, meski penghasilannya tak banyak.

Jadi agar seseorang bisa hidup dengan baik, bukan hanya harus meningkatkan penghasilan tetapi juga harus berhemat terhadap pengeluaran yang tidak penting. Saat belanja harus bisa meletakkan prioritas, mana yang perlu dibeli dan mana yang tidak perlu dibeli. Mana yang harus keluar uang, mana yang harus ditahan.

Jangan Kikir

Dalam membelanjakan harta, kita diperintahkan untuk bersikap hemat dan sederhana. Tidak berbelanja terlalu boros dan bermewahan. Namun sebaliknya juga tidak bakhil (pelit/kikir) yang justru mempersulit diri. Menurut Al Ghazali, menahan harta padahal semestinya harus dikeluarkan termasuk kikir. Sedangkan mengeluarkan harta, padahal semestinya harus ditahan adalah pemborosan.

Hemat dan kikir sepertinya mirip, yaitu sama-sama tidak mudah menghambur- hamburkan harta. Tetapi sebenarnya keduanya jauh berbeda. Perbedaannya adalah pada orientasinya.

Bila sesuatu itu memang semestinya dikeluarkan, seperti zakat, biaya pendidikan anak, seorang yang hemat tidak akan segan mengeluarkan uangnya. Bahkan mengutamakan agar secepatnya tertunai, karena ia berhemat memang untuk menunaikan kewajibannya itu. Tetapi seorang yang kikir meski tahu hal itu wajib dan musti dikeluarkan, ia tetap segan mengeluarkan uangnya.

Orang hemat mengendalikan uang. Sedangkan orang pelit dikendalikan uang. Kecintaan pada harta dunia telah menjerat dirinya. Janganlah diri ini seperti Qarun yang karena kikir dan tak mau berzakat akhirnya ditenggelamkan ke tanah beserta harta bendanya. Na’udzubillah min dzalik..

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, meski hemat, tetapi memiliki kuda pilihan. Kalau zaman sekarang, kuda yang dimiliki Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tersebut ibarat kendaraan berkelas premium, bukan kendaraan murahan. Tetapi bukan berarti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam boros, karena kuda itu untuk kendaraan perang, bukan untuk kemewahan. Jadi benar-benar penting dan bermanfaat untuk menunaikan kewajiban.

Beliau sangat sederhana dalam penampilan, tetapi dalam sedekah dan membantu kebutuhan sesama sangat dermawan. Orang yang dermawan dicintai Allah, sedang orang yang kikir dibenci-Nya.
Kita mesti terus memberikan pencerahan pada diri ini, bahwa harta adalah titipan yang harus disyukuri dengan membelanjakannya di jalan Ilahi. Kita berhemat bukan karena cinta harta, tetapi sebagai rasa tanggung jawab menjaga amanah dari Allah. Kita berhemat untuk tidak mengeluarkan sembarangan; bukan untuk ditimbun, tetapi agar lebih banyak harta yang disisihkan untuk sedekah membantu sesama.

Seorang yang beriman akan menggunakan hartanya sebesar-besarnya untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Harta yang disimpan, akan ditinggalkan. Dan harta yang disedekahkan di jalan Ilahi, menjadi bekal menuju kampung abadi. Kita semua milik Allah Subhanahu Wata’ala dan kepada-Nya kita kembali. Wallahu a’lam bis shawab.*/artikel pernah dimuat di Suara Hidayatullah, Januari 2015

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

ANEH, TAPI NYATA, ORANG ISLAM MENGHANCURKAN ISLAM

- No comments

Oleh Ustadz KH Abu Muhammad Jibriel AR.

Jika orang kafir bersikap Islamophobia, beraliansi dengan orang munafik untuk menghancurkan Islam, itu hal yang wajar. Tetapi jika orang Islam sendiri menghancurkan Islam, maka dampak buruknya jauh lebih berbahaya dari perang dan propaganda yang dilancarkan oleh orang kafir.

Kita sering menyaksikan kaum muslimin melakukan suatu perbuatan, tanpa disadari bukannya meninggikan Islam, malah sebaliknya menghancurkan Islam. Musykilah seperti ini telah disinyalir dalam Al Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Ketika orang-orang yang tidak mau berhijrah ke Madinah menghadapi sakaratul maut, mereka didatangi para malaikat. Para malaikat bertanya kepada orang-orang itu: “Mengapa kalian tidak mau berhijrah?” Mereka menjawab: “Kami dahulu adalah orang-orang yang tertindas di negeri Makkah.” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah sangat luas, sehingga kalian dapat berhijrah ke tempat itu?” Tempat tinggal mereka di akhirat adalah Jahanam, tempat tinggal yang sangat buruk. (QS An-Nisaa’ (4) : 97)

Sababun nuzul ayat ini terkait dengan orang-orang Islam di Mekah yang tidak mau ikut berhijrah ke Madinah bersama Nabi Saw dan para sahabatnya; padahal mereka mampu melakukannya. Sikap penolakan ini dinyatakan Al Qur’an sebagai sikap menzhalimi diri sendiri.

Hijrah dari wilayah yang tidak memberi kebebasan untuk menjalankan agama ke tempat lain yang dapat menjamin keamanan dan ketenteraman menjalankan Islam, seperti tersebut dalam ayat ini termasuk kewajiban yang besar, sedang meninggalkannya adalah dosa besar dan haram dilakukan seorang muslim.

Konteks ayat ini menyangkut sebagian kecil orang Islam yang menolak ikut berhijrah karena khawatir nasib keluarga dan bisnis mereka apabila ditinggal pergi ke Madinah. Mereka tidak yakin, segala kenikmatan yang dimiliki di Mekah akan diperoleh di tempat yang baru. Mereka yang lebih mementingkan sanak keluarga, bisnis, dan segala pertimbangan duniawi, daripada melaksanakan perintah Allah untuk berhijrah bersama Nabi Saw, termasuk orang yang menzhalimi dirinya sendiri, karena itu diancam masuk neraka.

Dalam kondisi umat Islam tertindas di Mekah, dimusuhi, disiksa bahkan diusir, ada orang Islam yang tidak mau berkorban di jalan Allah, dan memilih berteman dengan orang kafir Mekah demi keselamatan diri, keluarga, dan bisnisnya. Sikap seperti inilah, tanpa mereka sadari dampaknya akan menghancurkan Islam, dan memperlemah kekuatan umat Islam. Dan terbukti kelak, ketika umat Islam berperang dengan kafir Quraisy, mereka yang menolak ikut hijrah ini, dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar. Mereka ikut berperang dalam barisan orang kafir melawan sesama Muslim. Dan di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.

Sementara mereka yang masih hidup, malah menambah banyak jumlah orang kafir untuk melawan kaum muslimin. Sehingga mereka kehilangan kesempatan beramal shalih, tidak bisa berjihad bersama rasul-Nya, dan tidak bisa membela Islam dan tidak juga membantu sesama muslim melawan musuh-musuh kafir. Dalam pandangan Islam, hal semacam itu adalah kerugian yang sangat besar.

Sikap orang Islam yang tidak mau berkorban untuk kepentingan Islam, dan lebih mengutamakan jabatan, kekuasaan, bisnis, dan kesejahteraan sanak saudaranya, terutama disaat orang-orang kafir menindas serta memarjinalkan orang Islam, itulah orang yang menzhalimi dirinya sendiri. Sekalipun sikap ini tidak menjerumuskannya ke tingkat kafir pada Islam, tapi nasib buruknya di akhirat sudah menanti, yaitu dimasukkan neraka jahannam. Ketika menghadapi sakaratul maut, ancaman neraka ini sudah dibisikkan oleh makaikat.

Inilah Muslim Aneh (Sontoloyo):

Adanya orang Islam yang lebih mengutamakan keselamatan duniawi daripada agamanya, merasa berat meninggalkan kesibukan dunianya daripada memperjuangkan agama Allah, inilah mentalitas Muslim Sontoloyo.

Di zaman kita sekarang, bukan sedikit orang Islam bermental sontoloyo. Mereka ingin beragama dengan enjoi, tidak dibebani kewajiban yang nereka rasa bikin hidup susah. “Beragama itu yang biasa-biasa saja, moderat, toleran, dan tidak radikal ataupun diskriminatif,” kata mereka. Ada juga di antara Muslim Sontoloyo ini yang mengatakan, “Kita setuju dengan syariat Islam, tapi jangan dipaksakan.”

Oleh karena itu, larangan agama tidak digubris, nasib Islam juga tidak dipedulikan. Orang Islam yang menuntut berlakunya syariat Islam di lembaga negara dianggap radikal dan memaksakan kehendak. Lihatlah jutaan umat Islam yang tercatat sebagai PNS, Polisi, TNI, anggota DPR, MPR, DPD. Di antara mereka, memang ada yang rajin ikut pengajian, shalat berjamaah, bahkan mengikuti istighasah, semaan, zikir berjamaah. Jika dimintai infak untuk kemanusiaan mereka tak pelit keluarkan hartanya. Malah ada juga yang setiap saat pergi umrah, menyumbang untuk yatim piatu, pesantren tahfiz dllnya. Tapi hanya sebatas itu.

Apabila diajak lebih serius, berjuang supaya syariat Islam menjadi hukum positif di negeri yang penduduknya mayoritas beragama Islam ini, mereka menolak. Dan cepat-cepat mengatakan, negara kita bukan negara Islam. Tidak perlu formalitas, yang penting substansinya. Kita jangan memaksakan kehendak, karena rakyat Indonesia hitrogen.

Seakan kewajiban melaksanakan dan memperjuangkan tegaknya hukum Allah hanya kewajiban orang atau ormas dan parpol tertentu saja. Mereka merasa cukup dengan “Islam yang biasa-biasa” saja. Melaksanakan hukum Allah di lembaga negara dianggap memaksakan kehendak. Tapi melaksanakan demokrasi, sekularisme dengan segala propaganda dan rekayasanya tidak dianggap memaksakan kehendak.
Keanehan seperti ini ternyata telah diramalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dg sabdanya :

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: (بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ، فطوبى للغرباء) قيل: يا رسول الله! من الغرباء؟ قال: الذين يَصْلِحون إذا فسد الناس) وفي لفظ آخر: (يُصلِحون ما أفسد الناس من سنتي) رواه مسلم

Dari Abu Haurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Bermula Islam itu datang dalam keadaan asing,dan ia akan kembali asing seperti sediakala.Maka sungguh berbahagialah orang-orang yang asing itu.Ada yang bertanya,wahai Rasulullah siapakah orang yang asing itu.Beliau menjawab;orang-orang yang mengadakan perbaikan ketika manusia rusak.Dan pada lafaz yang lain:Itulah orang-orang yang menegakkan sunnahku disaat manusia rusak….(HR Muslim)

Sikap aneh manusia terhadap Islam pada periode awal kembali lagi berulang dizaman ini.Mereka merasa heran dengan kedatangan Islam ,ketika suasana masyarakat diselimuti kegelapan jahiliah pada seluruh sisi kehidupan..

Seperti sikap sebagian muslim di masa awal Islam yang menolak ikut hijrah ke Madinah. Seperti itu pula mentalitas sebagian besar orang Islam di zaman sekarang. Keberadaan mereka di birokrasi pemerintahan bukannya membantu perjuangan Islam di negeri yang berdasarkan Ketuhanan YME ini, sebaliknya menambah jumlah orang kafir yang menolak berlakunya syariat Islam. Padahal tidak ada dispensasi, setiap muslim berkewajiban melaksanakan syariat Islam, seperti kewajiban hijrah dari Mekah ke Madinah di zaman Nabi Saw; kecuali untuk tiga kategori saja.

(98) إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا
(99) فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَن يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا

Firman Allah: “Adapun kaum mukmin laki-laki, kaum mukmin perempuan dan anak-anak yang lemah, sehingga mereka tidak mampu dan tidak mengetahui jalan untuk pergi berhijrah, mudah-mudahan mereka itu diampuni oleh Allah. Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun kepada para hamba-Nya yang tertindas. (QS An-Nisaa’ (4) :98-99)

Hanya laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang lemah saja yang diberi dispensasi (karena udzur syar’i). Sedangkan muslim lainya tetap berkewajiban menegakkan syariat Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara menurut kemampuannya.

Penolakan orang Islam, baik dia anggota ormas, orpol, birokrat, polisi, TNI, dosen, mahasiswa, terhadap berlakunya syariat Islam, merupakan perbuatan yang dapat menghancurkan serta memperlemah peran Islam untuk memperbaiki masyarakat dan negara. Akibat penolakan ini luar biasa dahsyatnya. Jumlah mayoritas secara kuantitas, tapi minirotas secara kualitas. Bobot dan pengaruhnya sangat kecil dalam menentukan arah negara ini. Jumlah mayoritas tapi selalu kalah suara dalam pilkada, pilgub, pilpres.

Akibat selanjutnya, untuk mencari pemimpin pemerintahan, atau kepala daerah dari kalangan orang Islam yang mau mengatasi problem masyarakat berlandaskan syariat Islam, susahnya bukan kepalang. Kita sering kecele, ketika dipilih jadi pemimpin pusat atau daerah, atau pejabat yang duduk di eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Kita menyangka dia orang Islam yang shalih, ternyata dia agen zionis, antek syiah, atau orang yang berpaham komunis, liberal dan sekuler. Sehingga tidak heran, dari kalangan muslim sontoloyo ini tiba-tiba keluar ucapan, “Saya seorang pluralis, menolak berlakunya syariat Islam di lembaga negara. Saya seorang demokratis, tidak setuju syariat Islam menjadi hukum positif di negeri ini”.

Oleh karena itu, keberadaan muslim sontoloyo di negeri ini, dampak bahayanya tidak kalah dahsyat dibanding orang kafir dalam menghancurkan Islam. “Orang Islam menghancurkan Islam, disadari ataupun tidak, sungguh fenomena yang memilukan. Sekalipun sikap muslim sontoloyo ini tidak sampai mengantarkanya ke tingkat murtad atau kafir, karena mereka masih mengaku mencintai Islam, melaksanakan amaliyah Islami, tapi di akhirat kelak mereka tetap diancam hukuman siksa neraka.

Pilih yang mana, menjadi muslim sontoloyo atau muslim yang taat pada Allah dan rasul-Nya, dan rela bekerjasama dalam membela Islam?

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Allah Swt berfirman: ” Kaum mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka mengajak berbuat kebajikan, mencegah kemungkaran, melakukan shalat, mengeluarkan zakat, dan menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang akan mendapat rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa untuk menolong kaum mukmin lagi Mahabijaksana dalam memberikan pertolongan.” (QS At-Taubah (9) : 71)

Wallahu a’lamu bis showab, semoga bermanfaat fid dunia wal al akhirat..

Semoga ummat Islam menyadari keanehan ini

INILAH BERBAGAI KEJADIAN BESAR SEBELUM MUNCULNYA DAJJAL

- No comments
Saat fitnah Dajjal sudah mulai datang, sebaiknya umat uzlah dengan tetap menunaikan hak Allah atas dirinya dengan ‘uzlah berjama’ah’

oleh: Abu Fatiah Al-Adnani

DARI Samurah bin Jundab ra, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam pada khutbah beliau sesudah shalat gerhana matahari, ada sabda beliau:

وَإِنَّهُ وَاللَّهِ لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ ثَلاَثُوْنَ كَذَّابًا آخِرُهُمُ الْأَعْوَرُ الدَّجَّالُ، مَمْسُوْحُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى … وَلَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ كَذَلِكَ حَتَّى تَرَوْا أُمُورًا يَتَفَاقَمُ شَأْنُهَا فِي أَنْفُسِكُمْ، وَتَسَاءَلُوْنَ بَيْنَكُمْ هَلْ كَانَ نَبِيُّكُمْ ذَكَرَ لَكُمْ مِنْهَا ذِكْرًا، وَحَتَّى تَزُوْلَ جِبَالٌ عَلَى مَرَاتِبِهَا

“Dan sungguh demi Allah, hari Kiamat tidak akan terjadi sampai munculnya 30 tukang dusta, yang paling akhir dari mereka itu si buta sebelah, Dajjal, terhapus mata kirinya … Munculnya tukang dusta yang terakhir ini tidak akan terjadi sampai kalian melihat perkara-perkara yang memuncak keadaannya pada diri kalian, dan kalian saling bertanya di antara kalian, “Apakah nabi kalian telah menceritakan kepada kalian sebagian darinya?”, dan sampai gunung-gunung bergeser dari letak posisinya.”  [HR. Ahmad, awal Musnad Al-Bashriyyîn, hadits no. 20199 [Al-Musnad (5/22).]

Seorang pemikir muslim asal London, Ahmad Thomson, dalam bukunya yang berjudul SISTEM DAJJAL menyebutkan tiga macam bentuk kelompok sosial.

Pertama, masyarakat pedalaman sederhana yang hidup selaras dengan alam namun tidak mengikuti syari’at kenabian.

Kedua, masyarakat Islam yang selaras dengan alam dan mengikuti syari’at kenabian.

Ketiga, masyarakat kafir yang hidup tidak selaras dengan alam semesta dan sengaja menolak syariat Sang Pencipta.

Masyarakat pertama perlahan semakin menghilang seiring laju perkembangan teknologi dan informasi. Walaupun eksistensi mereka akan tetap ada namun mayoritas kita tidak berada di kelas itu. Adapun jenis kelompok kedua, gambaran yang paling ideal terjadi pada generasi terbaik umat Islam; sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Mereka bisa selaras fitrahnya dengan lingkungan dan pada saat yang sama juga menjadikan keselerasannya dengan alam semesta dalam bingkai ibadah kepada pencipta alam semesta. Pada kehidupan mereka terdapat sistem hidup yang mengandung kecukupan dan keberkahan, materil dan non materil..

Kelompok kedua ini menjadikan dunia sebagai ladang menanam amal untuk memetik kebahagiaan yang sesungguhnya di akhirat. Karenanya mereka tidak mengeksplorasi alam semesta dengan semangat ketamakan dan eksploitasi, melainkan agar sarana menegakkan agama ini makin mudah dan efektif. Mereka tidak merusak hutan atau menambang isi bumi secara liar yang di kemudian hari menyisakan persoalan bagi anak cucu mereka.

Sebaliknya langit dan bumi mendatangkan keberkahan dalam semua yang mereka lakukan. Syariat kenabian yang mereka jadikan sebagai dasar pijak dan petunjuk arah, telah membuat tujuan dari semua yang mereka lakukan menjadi terang dan jelas. Karenanya mereka kaya dan makmur dengan sebenar-benarnya. Dunia telah mengikutinya, bahkan berada dalam genggaman tangannya. Sementara hatinya tetap bebas untuk tunduk dalam kendali syariat pencipta dunia itu.

Adapun masyarakat ketiga, inilah jenis masyarakat yang paling mendominasi dunia; masyarakat yang bermusuhan dengan alam semesta dengan beragam aktivitas eksploitasi alam -juga manusianya- secara liar dan brutal. Dimana semua itu dilakukan untuk memenuhi nafsu mereka dan dalam rangka menentang syari’at pencipta mereka. Inilah masyarakat kafir yang kehidupan mereka tunduk di bawah kendali Iblis melalui sistem Dajjal dan kaki tangannya.

Inilah era di mana kita hidup, era yang tanpa sadar menyeret kaum muslimin untuk masuk dalam pusaran permainan mereka untuk selanjutnya mustahil bisa keluar darinya. Pola hidup masyarakat kelas ini telah menjadi sesuatu yang sistemik, berlaku secara global dan menjangkau seluruh bidang kehidupan manusia. Politik, sosial, ekonomi, budaya, militer, pemikiran dan peradaban, semuanya berada dalam kendali sistem kufur ini.

Inilah zaman yang oleh nabi disebut sebagai zaman fitnah, zaman yang semua sistem kenabian telah dijurkirbalikkan, norma dan nilai kebenaran dirusak tanpa ada yang tersisa. Sangat berat hidup di era ini; era dajjal, era dimana seluruh masyarakat dunia telah buta, yang karenanya si mata satu merasa pantas menjadi raja. Ya, sebagian besar –kalau tidak boleh disebut hampir semua- manusia telah buta. Bukan cuma buta, tapi juga tuli dan bisu, yang karenanya mereka tidak memahami. Sebagian besar manusia tidak sadar bila mereka menjadi korban konspirasi Dajjal dan kroni-kroninya. Sebab, mereka merasa mengenakan baju para raja dan tinggal di istana, walau hakikat yang sebenarnya mereka telanjang dan terpenjara.

Betapa jujurnya sabda nabi kita yang mengingatkan datangnya masa-masa sebelum Raja Pendusta ini menampakkan sosok fisiknya; Munculnya tukang dusta yang terakhir ini tidak akan terjadi sampai kalian melihat perkara-perkara yang memuncak keadaannya pada diri kalian, dan kalian saling bertanya di antara kalian, “Apakah nabi kalian telah menceritakan kepada kalian sebagian darinya?”, dan sampai gunung-gunung bergeser dari letak posisinya”

Ya, dengan seluruh sistem yang membelit kaum muslimin di seluruh lini kehidupan mereka, lalu kita saling bertanya, ”Apakah Nabi kita telah menceritakan akan datangnya peristiwa ini kepada kita? Apakah Nabi kita sudah menjelaskan solusi menghadapi zaman fitnah ini?

Sebenarnya, ratusan hadits tentang nubuwat akhir zaman telah banyak disampaikan. Dan apa yang kita saksikan adalah fakta nyata atas kebenaran nubuwat nubuwat itu. Lantas, apa yang dapat kita perbuat?

Barangkali, inilah salah satu wasiat beliau yang sangat tepat untuk kita realisasikan di zaman fitnah ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Sebaik-baik manusia pada masa terjadinya kekacauan adalah seorang laki-laki yang memegang tali kendali kudanya di belakang musuh Allah. Ia membuat mereka gentar dan mereka juga membuatnya gentar.  Atau seorang laki-laki yang mengasingkan diri di daerah pedalaman, dengan menunaikan hak Allah atas dirinya.” [. HR. Al-Hakim dan Abu ‘Amru Al-Dani. Dinyatakan shahih oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi]

Pilihan pertama sangat cocok untuk penduduk negeri yang Allah karuniakan ibadah jihad. Pelakunya akan dijanjikan dua kebaikan; apakah kemenangan yang membawa ghanimah dan kemuliaan, atau syahadah yang mengantarkan pelakunya pada kebahagiaan hakiki di jannah. Adapun bagi kaum muslimin yang berada di wilayah ‘damai’, maka pilihan kedua adalah solusi terbaik; uzlah dengan tetap menunaikan hak Allah atas dirinya. Uzlah yang hak Allah tetap terpenuhi adalah ‘uzlah berjama’ah’, membentuk komunitas yang memiliki kesamaan tujuan; menegakkan agama ini hingga bisa mewujudkan masyarakat yang selaras dengan alam semesta dan tetap tunduk kepada syari’at Allah Subhanahu Wata’ala. Wallahu a’lam bish shawab

Penulis buku “Misteri Negeri-Negeri Akhir Zaman”

ALLAH MURKA!! Israel Diguncang Gempa Setelah Merusak Masjid Al Aqsa; Tolong di bagikan agar banyak yang mendo'akan saudara-saudara kita disana. Amiiin

- No comments

Di wilayah selatan Israel telah terjadi gempa berkekuatan 4, 2 skala Richter mengguncang. Muslim Palestina yakini, gempa itu adalah balasan dari Allah setelah pasukan negara zionis itu menyebabkan kerusakan Masjid Al Aqsa. empat hari sesudah pasukan Israel menyerbu serta mengakibatkan kerusakan Masjid Al Aqsa.

Seperti ditulis surat kabar Yediot Aharonot Israel dari info Institute Seismologi di ibukota Tel Aviv, gempa dengan kemampuan 4, 2 taraf Richter itu terjadi pada jam lima pagi saat setempat. Pusat gempa ada pada di kedalaman laut mati sampai kota Ashdod.

Disamping itu, masyarakat Palestina yang berdekatan dengan kota Ashdod menyebutkan tak rasakan ada getaran gempa itu.
Seperti ditulis Eramuslim, Muslim Palestina yakin kalau gempa yang mengguncang lokasi selatan Israel pada Kamis pagi adalah peringatan awal dari Allah sesudah aparat keamanan Yahudi menyerang serta mengakibatkan kerusakan Masjid Al Aqsha.

Dalam press release-nya, Abdillah Onim menyampaikan kalau 100 muslim Palestina terluka akibat serbuan serta pengerusakan Masjid Al Aqsa itu. Jurnalis Indonesia yang ada di Gaza itu melaporkan sekitaran 200 Yahudi menodai Masjid Al Aqsa serta melemparinya dengan bom nada serta gas air mata.

Mudah-mudahan Allah Memberi kesabaran untuk saudara-saudara muslim kita yang tertimpa musibah Aamiin Ya Robbal Alamin..
Yuk.. bantu berbagi supaya makin banyak orang yang mendo'akan.. 

SUMBER: sufera.com

ISIS SESAT DAN MENYESATKAN . SEBARKAN !!!

- No comments

Pendapat Ulama Mengenai Isis

Ada beberapa penyimpangan ISIS dari Islam:
1. Dengan beranggotakan 30.000 pasukan, mereka nyatakan Negara Islam Iraq dan Suriah di wilayah Iraq dan Suriah. Otomatis mereka harus berperang dengan 300.000 pasukan Iraq dan Suriah yang notabene merupakan musuh Israel dalam perang Arab -Israel di tahun 1948, 1967, dan 1973. Ini menimbulkan fitnah. Pertumpahan darah. Melemahkan musuh2 Israel. Ini makar dari Israel.
2. Meski rezim zionis Israel menyerang Gaza pada bulan Agustus 2014 kemarin sehingga lebih dari 2.000 rakyat Gaza tewas, ISIS tidak mau membantu ummat Islam di Gaza melawan Israel. Yang dibunuh ISIS sebagian besar justru ummat Islam di Suriah, Iraq, dan Lebanon.
3. ISIS mendeklarasikan Negara Islam tanpa musyawarah dengan para Ulama. Ulama / rakyat yang tidak mau melakukan bai’at terhadap ISIS langsung disembelih secara sadis.
4. ISIS membunuh orang2 kafir yang tidak mau masuk Islam (kecuali rakyat Israel yang aman dari tangan ISIS). Ini bertentangan dengan Islam yang menyatakan tak ada paksaan dalam beragama
5. ISIS membunuh tentara Iraq, tentara Suriah, dan rakyat yang sudah tidak berdaya. Padahal terhadap musuh yang sudah tidak berdaya, Nabi menawan mereka dan membebaskan mereka dengan tebusan.
NU Minta Pemerintah Tegas Sikapi ISIS
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menolak keberadaan Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) di Indonesia dan meminta pemerintah bersikap tegas terkait dengan perkembangan tersebut.
“Gerakan ISIS mengancam keutuhan NKRI, bertentangan dengan jiwa Pancasila, dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, Indonesia harus menolak berdirinya ISIS, yang jelas membahayakan keselamatan bangsa dan mengancam keutuhan negara,” katanya dalam konferensi press di gedung PBNU, Jum’at (8/8).

Syuriyah PBNU: Jangan Ikut-Ikutan Mendukung ISIS!
Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi menyerukan kepada warga nahdliyin dan umat Islam Indonesia agar tidak ikut-ikutan mendukung gerakan Negara Islam di Irak dan Syuriah (ISIS) dan sekaligus tidak membuat perpecahan di kalangan kaum muslimin.
“Lebih baik kita sebagai kaum muslimin berbuat melakukan strategi yang islami dan yang indonesiawi dari pada kita mengaku “kelompok paling Islam”, namun menghalalkan “segala cara” karena merasa untuk kepentingan kelompoknya yang “paling islami” itu.
Menghalalkan segala cara, kata Hasyim, bukanlah ajaran Ahlussunnah wal-Jamaah. “Yang pernah ada dalam sejarah adalah kelompok Khawarij yang boleh merusak apa saja yang bertentangan dengan kemauannya.
“Dan apabila antar-kelompok kaum muslimin sampai bentrok, itulah saatnya kekuatan asing akan masuk dan merusak Islam dan Indonesia . Waspadalah,” tambahnya. (Ahmad Millah/Abdullah Alawi)

Sayyidina Ali Pernah Peringatkan, Waspadai Kelompok Ini!
Menurut pengasuh Majelis ‘Bismillah’ MWCNU Pasarkliwon Surakarta, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, 1.400 tahun silam, Imam Ali telah mengingatkan akan datangnya gerombolan bengis yang akan mengibarkan panji-panji hitam yang menyerupai panji-panji hitam Imam Mahdi.
“Ucapan beliau terekam dalam literatur Hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yakni dalam kitab Kanzul Ummal yang dihimpun oleh ulama besar yang bernama Al Muttaqi Al Hindi pada riwayat nomer 31.530,” terang cicit Muallif Simtuddurar, Habib Ali Al-Habsyi itu, Ahad (20/7).
Dalam kitab tersebut, diriwayatkan bahwa Imam Ali pernah berkata: “Jika kalian melihat bendera-bendera Hitam, tetaplah kalian di tempat kalian berada, jangan beranjak dan jangan menggerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan muncul kaum lemah (lemah akal sehat dan imannya), tiada yang peduli pada mereka, hati mereka seperti besi (hati keras membatu jauh dari cahaya Hidayah).
Mereka akan mengaku sebagai Ashabul Daulah (pemilik negara, saat ini ISIS telah mengumumkan berdirinya Daulah Islam di Iraq dan Syam), mereka tidak pernah menepati janji, mereka berdakwah pada Al Haq (kebenaran) tapi mereka bukan Ahlul Haq (pemegang kebenaran).
Namanya dari sebuah julukan, marganya dari nama daerah (nama pemimpin mereka, memakai nama julukan dan marga dari asal daerah Baghdad) rambut mereka tak pernah dicukur, panjang seperti rambut perempuan, jangan bertindak apapun sampai nanti terjadi perselisihan diantara mereka sendiri, kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

Dua Unsur Sesat ISIS Menurut Majelis Mujahidin Indonesia
Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menyatakan deklarasi Daulah Khilafah Al-baghdadi atau yang lebih dikenal Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) adalah sesat, sehingga pihaknya secara tegas menolak perjuangan militan mereka.
Menurut Amir MMI, Ustaz Muhammad Thalib, ada dua alasan sesat yang telah dilakukan ISIS. Pertama, mereka dikatakan telah berdusta atas nama khilafah. Pengangkatan khilafah ini dinilai akan memicu konflik atau perang saudara antar kaum muslimin, yang setuju dan menolaknya.
“Alasan kedua, kelompok ISIS mengkafirkan kaum muslimin yang menolak kekhalifahan yang mereka deklarasikan secara sepihak. Dimana, hal tersebut jelas sikap yang sesat. Siapapun yang menyeru umat Islam untuk memilih dirinya menjadi khalifah tanpa musyawarah dengan kaum muslimin, maka orang itu telah sesat,” terang Ustaz Thalib di sela-sela pertemuan DPW MMI se Jateng-DIY, di Kantor MMI Surakarta, Sabtu 16 Agustus 2014.
Thalib menambahkan, pasca dideklarasikannya Khilafah Al-baghdadi pada 28 Juni 2014 lalu, banyak bencana bagi kaum muslimin. Ribuan umat yang menolak dan menentang deklarasi tersebut dibunuh.
Bahkan banyak kaum perempuan di Iraq yang tak berdosa juga dibunuh oleh kelompok ISIS. Padahal, tindakan mereka membunuh manusia, sekalipun orang itu kafir tidak dibenarkan oleh syariat Islam.

Majelis Mujahidin Tegaskan ISIS Sesat dan menyesatkan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Majelis Mujahidin membantah mereka terkait dengan State of Iraq and Syria (ISIS). Bahkan Majelis Mujahidin menegaskan bahwa deklarasi kekhalifan Al-Baghdadi adalah sesat dan menyesatkan.
Dalam surat keberatan yang disampaikannya kepada Republika Online (ROL), Majelis Mujahidin menyatakan keberatan dengan pemberitaan ROL. Berita tersebut terkait dengan keterangan Ketua Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Ansyaad Mbai yang menyebut adanya dukungan Majelis Mujahidin terhadap ISIS.
Hal ini terkait dengan penyebutan Ketua Majelis Mujahidin Indonesia, Abu Bakar Ba’asyir, yang mengeluarkan fatwah kepada seluruh anggotanya untuk mendukung gerakan ISIS. Padahal Abu Bakar Ba’asyir bukan lagi anggota Majelis Mujahidin.

Inna lillah! Keji, ISIS menyembelih Mujahid Jabhah Islamiyah

Kumpulan foto mujahidin yang dibunuh oleh ISIS
INILAH FOTONYA

Menurut Irfan S Awwas, ISIS adalah rekayasa Syi’ah untuk menghancurkan umat Islam. Artinya ISIS = Syi’ah:
Daulah Al-Baghdadi (ISIS), rekayasa Syi’ah menggunakan doktrin Khawarij
Propaganda jahat ISIS berhasil memukau dan menipu Muslim dengan manipulasi konsep khilafah dan slogan-slogan menawan lainnya seperti anti thaghut, syahid di jalan Allah dll. Mengapa doktrin takfir yang merupakan ideologi kaum khawarij mendominasi serta mengendalikan pemikiran dan sikap kaum jihadis di bawah naungan Daulah Khilafah Al-Baghdadi? Inilah rekayasa Syi’ah untuk merusak citra Islam dan mengadu domba sesama Muslim.

Sebaliknya Voa-Islam.com yang mendukung ISIS justru menulis yang menentang ISIS adalah kaum Syi’ah:
Kenapa Tiba-Tiba Syiah, Kaum Nasrani & Timses Jokowi Sibuk Dengan ISIS?
JAKARTA (voa-islam.com) – Dengan dalih Untuk melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjaga persatuan Indonesia, benih-benih gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Indonesia harus segera ditolak

Baik Arrahmah.com, Irfan S Awwas yang menentang ISIS adalah Wahabi yang benci Syi’ah. Voa-Islam.com dan Abu Bakar Ba’asyir yang mendukung ISIS juga Wahabi pembenci Syi’ah. Aneh kan jika saling tuduh Syi’ah? Di Timur Tengah, orang2 model begini bisa saling bunuh karena menganggap satu sama lain adalah Syi’ah meski sebetulnya bukan. Jadi isyu Syi’ah justru merupakan fitnah untuk saling bunuh thd sesama Muslim.

Ini Alasan ISIS tak Mau Jihad ke Gaza
Dia pun menambahkan, ISIS butuh untuk memperluas batasnya untuk melingkupi Suriah yang lebih luas. Termasuk Irak, Suriah, Libanon, Yordania, dan kemungkinan Gaza. Dengan menguasai negara tersebut, baru ISIS akan berkonfrontasi melawan Israel.
ISIS yang dibentuk oleh bekas pimpinan Alqaeda, Abubakar Albaghdadi, disebut-sebut merupakan ciptaan spionase tiga negara, yakni Israel, Amerika Serikat, dan Inggris. Bekas pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) AS, Edward Snowden, menyebut jika adanya ISIS berguna untuk melindungi kepentingan Yahudi.
http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/08/01/n9m9e7-ini-alasan-isis-tak-mau-jihad-ke-gaza

Snowden: ISIS Bentukan Israel, AS dan Inggris
REPUBLIKA.CO.ID,Mantan pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat Edward Snowden menyatakan jika Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merupakan organisasi bentukan dari kerjasama intelijen dari tiga negara.
Dikutip dari Global Research, sebuah organisasi riset media independen di Kanada, Snowden mengungkapkan jika satuan intelijen dari Inggris, AS dan Mossad Israel bekerjasama untuk menciptakan sebuah negara khalifah baru yang disebut dengan ISIS.