SLIDE1

7 Kabar Bahagia Jika Kamu Penikmat Kopi

- No comments


Kalau kamu pencinta kopi, kamu patut berbahagia dengan kabar teranyar dari peneliti. Para peneliti dari Universitas Southern California baru saja mengumumkan, jika Anda mengonsumsi kopi 2,5 cangkir per hari, Anda akan terhindar dari risiko kanker usus besar.
Namun ternyata tidak hanya sebatas itu, sedikitnya ada tujuh kabar membahagiakan jika Anda penikmat kopi. Apa pun jenis dan teknik mengolahnya, kopi tetap berkhasiat. Berikut khasiat kopi bagi kesehatan.

Mencegah kanker

Antioksidan pada kopi membantu menekan risiko gejala kanker pada tubuh. Hasil penelitian menyebutkan bahwa mengonsumsi kopi 1-2 cangkir per hari mampu menurunkan risiko kanker, khususnya kanker usus besar hingga 26 persen. Sementara konsumsi kopi 2,5 cangkir per hari atau lebih dapat menurunkan risiko kanker usus besar sampai 50 persen.

Meningkatkan mood

Disadari atau tidak, kebanyakan orang menjadi lebih bergairah dan ceria ketika meminum kopi. Berdasarkan penelitian, ternyata kopi merupakan salah satu minuman yang dapat meningkatkan mood seseorang. Bahkan, kopi dikabarkan juga dapat memberikan efek yang berkorelasi pada kebahagiaan.

4 Tips Cerdas Hidup Sehat dan Hemat

- No comments


Melihat perkembangan zaman, pertumbuhan ekonomi, dan gaya hidup masyarakat modern saat ini, antara gaya hidup sehat dan prinsip hemat seolah sebagai dua hal yang berseberangan.

Kalau mau sehat yang harus berani keluar modal dan kalau berprinsip hemat sulit memiliki gaya hidup sehat. Mari tilik menjamurnya berbagai pusat kebugaran yang memfasilitasi orang untuk berolah raga namun menuntut pembayaran sejumlah fasilitas yang disediakan.

Atau mari kita tengok berbagai salon dan pusat SPA untuk merawat kesehatan kulit dan tubuh dari luar. Semuanya berbau dengan bisnis dan tidak ada yang murah apalagi gratis.

Padahal, kalau kita mau untuk lebih membuka mata dan mengerahkan usaha, hidup sehat itu tidak mahal, kok. Gengsilah yang menaikkan tarif hidup sehat tersebut.

Kemudian mari kita tengok pada kebiasaan kaum perempuan, apakah melakukan pijat wajib di salon dengan produk berbahan kimia yang mereka gunakan? Apakah melakukan scrubbing merupakan sebuah pekerjaan berat yang tidak bisa dilakukan sendiri?

Tes Mata ! Dapatkah Anda Menemukan Soerang Wanita Dalam Gambar ini?

- No comments

Keindahan lukisan tidak hanya dituangkan di kanvas, tapi bisa juga di tubuh manusia.
Filosofi inilah yang termaktub pada karya seni melukis tubuh atau yang kekinian beken dikenal dengan nama Body Painting.
Dengan body painting ini pula, para seniman salah satunya bisa memiliki kemampuan menyamarkan tubuh manusia dengan alam sekitar.
Seperti yang dilakukan oleh Duo pelukis tubuh Leonie Genne dan Joerg Duesterwald membuat kaya seni yang menakjubkan.
Kedua pelukis tubuh tersebut berkolaborasi dengan fotografer Laila Pregizer dan Uwe Schmida untuk menggabungkan tubuh manusia dalam berbagai pemandangan alam.

6 Hal Agar Hutang Menjadi Berkah

- No comments
Pemberi hutang atau pinjaman tidak diperkenankan mengambil manfaat atau keuntungan duniawi dari orang yang berhutang.


Hutang-piutang sudah menjadi muamalah yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Hutang-piutang diperbolehkan di dalam Islam karena ia termasuk akad ta’awun (tolong menolong) untuk menolong orang yang membutuhkan bantuan dan juga merupakan akad tabarru’ (sosial) sebagai kepedulian untuk membantu orang-orang yang sedang dalam kesulitan. Bahkan memberikan hutangan kepada orang yang membutuhkan nilai pahalanya lebih besar daripada bersedekah kepada para peminta-minta.  Nabi Shalallahu ‘Alaii Wassallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah;

رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ فَقُلْتُ يَا جِبْرِيلُ مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ قَالَ لأنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ وَالْمُسْتَقْرِضُ لا يَسْتَقْرِضُ إِلا مِنْ حَاجَةٍ ))

“Pada waktu peristiwa isra’, aku melihat pada pintu sorga tertulis ‘Sedekah dibalas dengan sepuluh kali lipat, dan memberi hutangan dibalas dengan delapan belas kali lipat’. Maka aku (Nabi Shalallahu ‘Alaii Wassallam) bertanya ‘Wahai Jibril, mengapa memberi hutangan lebih afdhol ketimbang sedekah? Jibril menjawab ‘Karena seorang peminta-minta dia meminta sedekah padahal dia sudah mempunyai sesuatu, sedangkan orang yang berhutang tidaklah ia berhutang kecuali karena ia memang sangat membutuhkan.”

Agar hutang-piutang sesuai syari’ah, mendatangkan pahala dan tidak jatuh kepada riba maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan;

Pertama, pemberi hutang atau pinjaman tidak diperkenankan mengambil manfaat atau keuntungan duniawi dari orang yang berhutang. Sebab keuntungan yang didapat dari pemberian pinjaman termasuk riba. Nabi Shalallahu ‘Alaii Wassallam bersabda;

أإِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا ، فَأُهْدِيَ إِلَيْهِ طَبَقًا فَلا يَقْبَلْهُ ، أَوْ حَمَلَهُ عَلَى دَابَّةٍ فَلا يَرْكَبْهَا إِلا أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ

“Apabila salah seorang kalian memberi hutang (pada seseorang) kemudian dia memberi hadiah kepadanya, atau membantunya naik ke atas kendaraan maka janganlah ia menaikinya dan jangan menerimanya, kecuali jika hal itu telah terjadi antara keduanya sebelum itu.” (HR. Ibnu Majah)

Terkecuali kalau keuntungan tersebut tidak disyaratkan diawal akad, maka diperbolehkan bagi pemberi pinjaman untuk menerimanya. Seperti ketika orang yang berhutang pada saat melunasi hutangnya memberi hadiah kepada pemberi hutang sebagai tanda terima kasih atas bantuan hutang atau pinjaman yang diberikan. Jabir bin Abdillah meriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘Alaii Wassallam;

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَضَانِي وَزَادَنِي

“Aku menemui Nabi  saat Beliau berada di masjid, lalu Beliau membayar hutangnya kepadaku dan memberi lebih kepadaku.” (HR. Bukhari)

Dalam Islam ada dua macam akad, yaitu akad tabarru’ (akad sosial) dan akad mu’awadlah (akad komersial).  Hutang piutang masuk dalam ranah akad tabarru’ atau akad sosial yang oleh karena itu tidak diperkenankan seseorang untuk mengambil keuntungan darinya. Sedangkan untuk mengambil keuntungan materi Allah menjadikan akad jual beli, murabahah, mudharabah dan sebagainya. Bila akad sosial dan tolong-menolong seperti memberi hutangan disalahgunakan untuk mencari keuntungan materi maka itulah riba yang pelakunya diperangi Allah dan Rasul-Nya dan diancam dengan adzab neraka jahanam dalam waktu yang lama (QS. Al Baqarah: 275-277)

Kedua, hutang-piutang seyogyanya dipersaksikan dan tertulis, sebagaimana yang diperintah oleh Allah dalam QS: Albaqarah ayat 282. Hal ini begitu penting untuk menghindari potensi kedzaliman yang mungkin di lakukan oleh salah satu pihak, baik penghutang atau si pemberi hutang di kemudian hari. Banyak kasus terjadi dimana orang-orang yang berhutang mengingkari hutangnya ketika ditagih oleh si pemberi hutang. Maka disinilah perlunya saksi dan pencatatan dalam akad hutang piutang.

Ketiga, ketika berhutang hendaknya seseorang berniat untuk segera melunasinya bila sudah mempunyai kemampuan membayar. Niat yang benar untuk membayar hutang akan membantu seseorang dalam melunasi hutangnya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam bersabda;

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Siapa yang mengambil harta manusia (berhutang) disertai maksud akan membayarnya maka Allah akan membayarkannya untuknya, sebaliknya siapa yang mengambilnya dengan maksud merusaknya (merugikannya) maka Allah akan merusak orang itu.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam menerangkan seseorang yang berhutang dan mempunyai niat buruk untuk tidak melunasinya maka kelak ia akan menghadap Allah dengan menyandang predikat sebagai seorang pencuri.

فأَيُّمَا رَجُلٍ يَدِينُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لَا يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا

“Orang mana saja yang berhutang dan berniat tidak membayarnya, maka ia akan datang menghadap Allah sebagai seorang pencuri.” (HR. Ibnu Majah)

Keempat, ketika melunasi hutang hendaknya si penghutang melunasi dengan cara yang baik. Termasuk  cara yang baik dalam melunasi hutang adalah melunasinya tepat pada waktu pelunasan yang telah disepakati bersama. Memberi hadiah atau kelebihan ketika melunasi hutang termasuk salah satu kebaikan yang dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam, hal ini tidak masalah asalkan hadiah atau kelebihan tersebut tidak disyaratkan di awal akad baik oleh yang memberi hutang atau yang berhutang.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam pernah berhutang seekor onta dari seorang laki-laki. Hingga beberapa hari kemudian datanglah orang tersebut kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam untuk menagih ontanya. Lalu Rasulullah meminta para sahabat untuk mencari onta semisal untuk dibayarkan kepada laki-laki tersebut. Setelah dicari kesana kemari onta yang dimaksud oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam ternyata tidak ada melainkan onta yang lebih berumur dari yang dihutang oleh Rasulullah. Rasulullah pun bersabda kepada sahabat;

فَاشْتَرُوْهُ فَأَعْطُوْهُ إِيَّاهُ فَإِنَّ خَيْرَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Belilah dan berikan kepadanya, karena sebaik-baik kalian adalah yang paling baik ketika membayar hutangnya.”

Kelima, apabila orang yang berhutang mengalami kesulitan sehingga ia belum berkemampuan untuk membayar hutang yang telah tiba jatuh temponya, maka bagi si pemberi hutang hendaklah memberi penangguhan pembayaran. Memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar hutang adalah akhlak terpuji yang memiliki banyak keutamaan, diantaranya;

Ia akan mendapat naungan dan perlindungan dari Allah pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaii Wassallam;

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ , فَلْيُنْظِرْ مُعْسِرًا , أَوْ لِيَضَعْ عَنْهُ

“Barangsiapa yang ingin diberi naungan oleh Allah dalam naungannya, maka hendaklah ia memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar hutang atau ia bebaskan darinya.” (HR. Muslim)

Setiap harinya ia mendapat pahala sedekah sebesar nilai hutang yang ia berikan ketika ia memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar hutang hingga hutangnya dilunasi. Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam bersabda;

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلُهُ صَدَقَةً قَبْلَ أَنْ يَحِلَّ الدَّينُ فَإِذَا حَلَّ الدَّينُ فأنظره فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلُهُ صَدَقَةً

“Barangsiapa yang memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar hutang, maka baginya setiap hari ada pahala sedekah senilai hutang yang ia berikan, sebelum hutang itu lunas. Jika hutang itu belum lunas, lalu dia memberi penangguhan lagi maka baginya setiap hari ada pahala sedekah senilai itu.” (HR. Ahmad)

Allah akan memberinya ampunan dan memasukkannya ke dalam Surga.

إِنَّ رَجُلًا كَانَ فِيْمَنْ قَبْلَكُمْ أَتَاهُ الْمَلَكُ لِيَقْبِضَ رُوْحَهُ ، فَقِيْلَ لَهُ : هَلْ عَمِلْتَ مِنْ خَيْرٍ ؟ قَالَ : ماَ أَعْلَمْ . قِيْلَ لَهُ : اُنْظُرْ . قَالَ : مَا أَعْلَمْ شَيْئًا ، غَيْرَ أَنِّي كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا وَأُجَازِيْهِمْ فَأُنْظِرَ الْمُوْسِرَ ، وَأَتَجَاوَزُ عَنِ الْمُعْسِرِ ، فَأَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ

“Sesunguhnya ada seorang laki-laki yang hidup di zaman sebelum kalian yang didatangi malaikat untuk mencabut ruhnya. Lalu dikatakan kepadanya ‘apakah engkau pernah mengerjakan kebaikan?’ ia menjawab ‘aku tidak tahu’. Lalu dikatakan kepadanya ‘lihatlah!’ ia berkata ‘Aku tidak tahu, hanya saja dahulu sewaktu di dunia aku melakukan jual beli dengan orang dan aku memberi kemudahan kepada mereka, aku memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar, bahkan aku membebaskan orang yang kesulitan membayar’. Maka Allah pun memasukkannya ke dalam Surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keenam, bila ada keterlambatan pembayaran dari orang yang berhutang ketika sudah jatuh tempo, jangan sampai dikenakan denda. Karena denda yang muncul karena keterlambatan dalam membayar hutang adalah riba jahiliyah yang diharamkan di dalam Islam.*/Imron Mahmud

Rep: Admin Hidcom

Saatnya Menghindar Diri dari Keranjingan Game COC

- No comments
Jika seseorang mau membaca Al-Quran 3 juz saja, maka dalam 3 bulan ia akan sangat mudah untuk bisa menghafalkannya.


SUATU hari seorang sahabat pernah datang ke sebuah kios jasa pengiriman di bilangan Ciputat Tangerang Selatan. Selang beberapa menit, datang seorang ibu-ibu yang datang dengan menggendong balitanya.

Tanpa ba bi bu, sang ibu yang diperkirakan sudah berumur setengah abad itu langsung berkata, “Hei, kamu gimana sekarang. Masih main CoC nggak? Ini aku lagi dapat tantangan baru loh. Terus istanaku sudah besar, tapi kemaren ada yang nyerang, nah ini aku sama grup ku mau siapkan serangan balik,” ucapnya sembari tersenyum lebar.

MasyaAllah, tidak terbayang bukan, bagaimana seorang ibu ternyata pecandu game? Tapi ini fakta. Dan, bicara Clash of Clans (CoC) nyaris penggenggam smartphone yang gemar game, pasti mengerti game perang yang disebut bergenre strategi ini.

Clash of Clans adalah sebuah game strategi di mana pemain membangun komunitas, melatih pasukan, dan menyerang pemain lain untuk mendapatkan emas, trofi ,elixir dan dark elixir, membangun pertahanan yang melindungi pemain dari serangan pemain lain, dan untuk melatih serta meningkatkan kemampuan maupun jumlah pasukan.

Seorang sahabat yang lain malah sempat melihat seorang suami istri yang sedang makan siang sedang asyik main video yang dikembangkan oleh Supercell ini.

Keduanya terlihat begitu asyik, sampai-sampai makan pun mereka tak begitu selera. Akibatnya, game yang pertama kali dikembangkan  di Helsinki, Finlandia ini benar-benar telah menjadi game yang melenakan nyaris semua umur.

Karena begitu populernya, CoC ini masuk dalam daftar berita beberapa media online, yang segenap perkembangan (update) dari game tersebut terus diwartakan. Saking hebatnya, game besutan supercell CoC itu sampai muncul berita yang menguraikan begini jadinya bila CoC ditutup.

Kehilangan Waktu

Sejauh wajar dan normal, bermain mungkin sah-sah saja. Sebab sudah naluriah manusia, yang butuh bermain. Tetapi, apakah iya, waktu, pikiran dan perasaan habis untuk game? Sampai-sampai kemana-mana bicara game dan dimana-mana terus main game?

Jika masih anak-anak, bermain terus mungkin masih dimaklumi. Tapi kalau umur sudah tidak muda, punya anak dan punya banyak tugas, apakah iya game itu harus terus diperhatikan?

Padahal waktu terus berlalu. Sementara game CoC harus selalu dimainkan. Lengah sedikit, base yang dibangun akan diserang musuh. Akhirnya waktu akan terus tergerus untuk bermain game dan bermain lagi.

Sekali waktu, cobalah untuk ingat bahwa sebagai Muslim, adakah sisi diri yang harus dikuatkan, ditingkatkan atau malah masih perlu dibiasakan. Soal membaca Al-Quran misalnya.

Jika mampu bermain game 6 jam sehari, mengapa tidak dengan membaca Quran? Katakan berat. Tetapi, mengapa tidak menyesal kehilangan waktu 6 jam setiap hari.

Coba hitung, jika sehari 6 jam, sepekan berarti 42 jam. Sebulan menjadi 168 jam habis untuk main game. Lantas bagaimana jika waktu sebanyak itu digunakan tadarus Quran, membaca buku atau menghadiri majelis ilmu?

Sadarkah diri kita bahwa waktu begitu cepat berlalu dan betapa diri telah banyak kehilangan waktu? Sebagai Muslim pemahaman Islam tidak bertambah sedang umur terus habis main game. Padahal, diri sudah 30, 40 dan bahkan mungkin 50 tahun. Tapi hal sia-sia masih sulit dihentikan dalam keseharian.

Jangan sampai kelak kita termasuk seperti yang Allah gambarkan di dalam Al-Quran.

كَأَنَّهُمْيَوْمَيَرَوْنَهَالَمْيَلْبَثُواإِلَّاعَشِيَّةًأَوْضُحَاهَا

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi’at [51] : 46).

Oleh karena itu, sadarlah bahwa tidak ada yang paling berharga yang kita miliki setelah iman dan kesehatan selain waktu. Sangat tepat jika kemudian dikatakan waktu adalah kehidupan. Jadi, waktu bukan uang. Jadi, jangan lagi kehilangan waktu dengan melakukan kesia-siaan.

مِنْحُسْنإِسْلَامالْمَرْءتَرْكهمَالَايَعْنِيه

“Diantara baiknya keIslaman seseorang adalah ketika ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Ahmad, Tarmidzi dan Ibnu Majah).

Dan, kalau diri kita masih saja enggan meninggalkan hal sia-sia, remeh-temeh, maka selamanya kita akan berkutat dengan hal-hal remeh.

Syekh Abdullah Azzam pernah berkata:

إنلمتشغلنفسكبالكبائرشغلتهاالصغائر

“Jika Anda tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang besar, maka ia akan disibukkan dengan hal-hal yang remeh.”

Kerusakan Otak

Sebuah artikel menjelaskan bahwa orang yang main game 5 jam lebih per hari akan mengalami dampak negatif.

Dalam pandangan umum medis disebutkan bahwa otak selalu menerima informasi secara konstan, termasuk saat bermain game. Imajinasi visual yang ada di game akan masuk ke dalam otak, sehingga halusinasi dari hasil bermain game itu akan keluar dari otak. Jika ini terjadi pada anak-anak, maka ia akan semakin sulit membedakan mana game mana kehidupan.

Pernah seorang sahabat bercerita, bahwa suatu kali teman yang biasanya selalu menang kala bermain game mengalami kekalahan. Dan, ketika bermain lagi, kalah lagi. Akhirnya malam hari ia bermimpi main game dan kala tidur itu kakinya menendang-nendang seperti sedang main game dengan mulut terus berteriak, sehingga ia dimarahi oleh ayah ibunya.

Selain itu, otak akan sulit diajak memahami apa yang di luar game, sehingga wajar jika kemudian motivasi anak pecandu game sangat rendah saat sekolah. Termasuk banyaknya para orang tua yang gagal fokus alias teledor dalam banyak hal karena keasyikannya main game.

Revolusi Hidup

Lantas, bagaimana cara menjauhkan diri dari kecanduan game? Secara radikal kita harus ambil langkah konkret, yakni meninggalkannya dengan segera.

Seperti yang dialami oleh Manher (bukan nama sebenarnya), ia merasa dirinya tertipu game, karena setiap saat harus main CoC. Ditinggal sebentar sudah ada musuh yang menyerang. Memang asyik ada teman, koordinasi terus supaya clan-nya menang. Tetapi, sampai kapan clan dalam game itu akan menang, karena sedikit berhenti bermain, clan lain pasti nyerang.

Menyadari game itu akan terus menyita waktunya, ia pun memutuskan berhenti. “Aku main terus, baterai cepat habis, kuota internet juga gak sedikit disedot. Nah, ku pikir ini ngabisin uang juga rupanya. Gak ada cara lain, ku unistall game itu,” kisahnya.

Setelah berhenti bermain, Manher mengaku lebih tenang hidupnya. Ternyata ia sadar bahwa banyak waktu kosong yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Sekarang Manher lebih memilih meningkatkan pemahaman dunia web ketimbang sibuk main game.

Selagi belum terlambat, ayuk sadar diri. Untuk apa main game terus? Bukankah jika waktu game itu digunakan untuk menambah kebaikan diri akan banyak hal positif yang kita dapatkan?

Seorang mentor penghafal Al-Quran berkata, bahwa jika seseorang mau membaca Al-Quran 3 juz saja, maka dalam 3 bulan ia akan sangat mudah untuk bisa menghafalkannya.

Nah kalau begitu,  kapan berhenti main game? Katakan, “Sekarang aku berhenti” itulah satu-satunya strategi menang melawan kendali CoC atas diri sendiri yang telah lama terbuai oleh strategi pemenangan ilutif. Sebab, pada kenyataannya pemain game justru kalah melawan diri sendiri .

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar